Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jenjang SMP di Kota Samarinda telah berakhir. Namun, masih terdapat 387 kursi yang belum terisi di sekitar sepuluh SMP negeri. Mayoritas sekolah tersebut berada di kawasan pinggiran.
Salah satu sekolah yang belum memenuhi kuota adalah SMP Negeri 12 Samarinda. Kepala SMP Negeri 12 Samarinda Suprihatno mengatakan sekolahnya menyediakan kuota sebanyak 128 kursi, tetapi hingga penutupan pendaftaran hanya menerima 74 calon siswa. Artinya, masih terdapat 54 kursi yang belum terisi di SMP Negeri 12.
"Yang daftar memang enggak banyak, cuma segitu saja," ujarnya, Rabu (15/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda M Wahidudin, mengatakan kondisi serupa juga terjadi di sejumlah sekolah lain. Secara keseluruhan, masih ada sekitar 10 SMP negeri dengan total 387 kursi kosong. Menurutnya, sekolah-sekolah tersebut tetap diminta menerima calon siswa yang belum tertampung agar tidak menambah jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS).
"Ada sekitar 10 sekolah, totalnya 387 kursi yang belum terpenuhi. Kasih ada anak yang belum tertampung, silakan ditampung. Jangan sampai kemudian menambah daftar ATS. Anak tidak sekolah atau anak putus sekolah itu kewajiban negara untuk memfasilitasi," katanya.
Menurutnya, kuota yang belum terpenuhi bukan semata karena minimnya minat masyarakat. Sebagian besar sekolah tersebut berada di kawasan pinggiran dengan kepadatan penduduk yang rendah, bahkan ada yang berlokasi cukup jauh dari permukiman warga. Selain itu, terdapat pula sekolah yang letaknya berdekatan sehingga jumlah calon peserta didik terbagi.
"Ya, misalnya SMP Negeri 33 di Bantuas dan SMP Negeri 19 di Sungai Siring. Selain jauh, sebaran penduduknya di sana juga kurang," kata dia.
Di sisi lain, Disdikbud juga masih melacak keberadaan 16 calon siswa yang sebelumnya dilaporkan belum mendapatkan sekolah usai pelaksanaan SPMB. Menurut Wahidudin, pihaknya siap mendistribusikan mereka ke sekolah yang masih memiliki daya tampung apabila para orang tua datang melapor.
"Kalau mereka belum mendaftarkan ke sekolah lain, kita siap distribusikan. Yang jadi kendala kami belum tahu alamat maupun kontak mereka," tuturnya.
Belasan calon siswa tersebut tidak memperoleh sekolah karena kalah dalam seleksi sistem SPMB. Apabila setelah ditawarkan penempatan di sekolah yang masih memiliki kuota para orang tua tetap menolak karena alasan jarak, Disdikbud menyebut ruang geraknya terbatas.
"Ya, kalau enggak kalau nantinya mereka kan tidak memenuhi syarat ya. Itu kemampuan kami kan terbatas," pungkasnya.
