SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin menjadi sorotan publik karena hanya mendapatkan satu murid pada tahun ajaran baru 2026/2027. DPRD Banjarmasin pun berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka opsi penggabungan sekolah.
Ketua Komisi 4 DPRD Banjarmasin, Neli Listriani mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong pemerintah kota Banjarmasin untuk melakukan mencari akan permasalahan hingga mencari solusi bersama.
"Serta mencari akar permasalahan secara objektif, baru dari hasil evaluasi diambil tindak lanjut yang terukur," kata Neli dihubungi detikKalimantan, Rabu (15/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai tindak lanjut yang diambil, Neli menyebut diantaranya yang memungkinkan ialah penggabungan sekolah dengan yang terdekat (grouping), atau membuka kembali pendaftaran secara langsung di sekolah.
"Untuk tindak lanjut itu antara penggabungan atau kita buka kembali pendaftaran secara offline," ujar dia.
Neli mengungkapkan, kondisi dimana sekolah yang hanya terisi oleh satu pendaftar menjadi perhatian serius. Sebab, ia menduga kondisi tersebut terjadi bukan tanpa alasan, dan pasti dipengaruhi oleh berbagai faktor mendasar.
"Seperti misalnya hilangnya minat masyarakat, kualitas sarana dan prasarana yang dinilai kurang baik, lokasi sekolah yang kurang pas," ujarnya.
Menurut Neli, pemerataan pendidikan harus menjadi prioritas utama pemerintah kota, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara sekolah maupun siswa. Sehingga, ia mengajak agar seluruh pihak bisa terlibat bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan di Banjarmasin.
"Mari sama-sama berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan di Banjarmasin," ucap Neli.
Sementara itu, ditemui terpisah, Plt Kepala Sekolah SDN Teluk Dalam 10, Arief Rakhman Hakim mengatakan selama ini pihaknya juga selalu berkomunikasi dengan pengawas pembina SD untuk kondisi tersebut.
Ia mengatakan, pihaknya juga mendapat dukungan untuk menggabungkan sementara siswa SDN Teluk Dalam 10 dengan siswa SDN Teluk Dalam 9 selama masa MPLS. Hal ini, agar masa-masa perkenalan itu menjadi momen menyenangkan untuk seluruh siswa.
"Kami juga selalu berkomunikasi dengan pengawas pembina SD mengenai ini, responsnya bagus aja, kami juga berdiskusi mengenai persoalan ini," tutur Arief.
Arief menjelaskan bahwa kondisi kekurangan siswa di sekolah itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan, pada 2024 kemarin pihaknya tidak menerima murid baru yang mendaftar.
Meski begitu, proses belajar mengajar dipastikan Arief tetap berjalan sebagaimana mestinya. Siswa tetap diajar oleh guru dan tetap bersekolah seperti biasanya.
"Proses belajar mengajar akan tetap berjalan seperti biasa, setelah MPLS mereka akan belajar di sekolah sendiri," pungkasnya.
