Pulau Kalimantan selama ini dikenal sebagai wilayah yang relatif aman dari ancaman gempa bumi. Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, seperti Sumatra atau Jawa, intensitas maupun frekuensi gempa di Kalimantan memang tergolong jarang dan berskala kecil.
Namun, di balik citranya yang tenang, lembaran sejarah mencatat bahwa Kalimantan ternyata tidak sepenuhnya kebal dari aktivitas tektonik ekstrem. Wilayah ini pernah diguncang oleh gempa-gempa besar yang merusak, bahkan sempat tersapu oleh gelombang tsunami yang mematikan.
Tsunami Sangkulirang 1921
Salah satu bencana paling besar yang pernah melanda Kalimantan adalah Gempa dan Tsunami Sangkulirang di Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim). Peristiwa mematikan ini terjadi pada tanggal 14 Mei 1921.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), gempa utama tercatat memiliki magnitudo 6,2 dengan kedalaman pusat gempa yang tergolong dangkal.
Getarannya sangat kuat hingga mencapai skala intensitas VII-VIII MMI (atau 7 derajat Rossi-Forel). Artinya, guncangannya sanggup menyebabkan kerusakan tingkat sedang hingga berat pada banyak bangunan.
Dampak dari guncangan ini sangat meluas dengan radius getaran mencapai 250 kilometer. Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di daerah Sangkulirang dan Pulau Rending.
Di kawasan Kariorang (Tanjung-Setlu) dan Sekurau, sebagian besar rumah penduduk ambruk rata dengan tanah. Dahsyatnya pergerakan lempeng juga menyebabkan fenomena rekahan tanah sepanjang 10 meter dengan kedalaman 2 meter dan lebar 20 cm, yang bahkan menyemburkan air bercampur pasir serta tanah liat.
Setelah guncangan utama dan sekitar 10 kali gempa susulan, bencana berlanjut dengan datangnya gelombang tsunami yang menyapu wilayah pantai serta muara sungai. Berdasarkan kesaksian warga saat itu, air laut menggenangi jalanan di Sekurau hingga kedalaman satu meter, meninggalkan jejak kehancuran yang masif.
4 Kejadian Tsunami di Kalimantan
Masih berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia, tercatat ada empat peristiwa tsunami yang pernah melanda wilayah pesisir Kalimantan dengan penyebab yang bervariasi.
Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1773, yang dilaporkan berdasarkan kesaksian kapten kapal Spanyol mengenai adanya erupsi gunung api bawah laut di lepas pantai Kalimantan saat ia dalam perjalanan dari Selat Sunda menuju Filipina.
Selanjutnya, pada 16 Maret 1917, terjadi peristiwa tsunami di Kepulauan Sambergelap yang dipicu oleh longsoran bawah laut, di mana permukaan laut sempat naik setinggi 1,5 meter dalam waktu sepuluh menit dan menyebabkan kerusakan besar di daerah Pagatan.
Peristiwa ketiga yang tercatat adalah gempa bumi besar pada 14 Mei 1921 di Sangkulirang yang memicu gelombang tsunami, mengakibatkan kerusakan masif di Sekurau dengan ketinggian air mencapai satu meter di jalan raya.
Terakhir, pada 26 Oktober 1957, gempa bumi yang terjadi di bagian selatan dan timur Kalimantan memicu banjir pasang yang disertai suara gemuruh, yang menyebabkan banyak penduduk terbangun karena panik.
Deretan Gempa Signifikan di Kalimantan
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pulau Kalimantan tercatat beberapa kali diguncang gempa berkekuatan signifikan yang berdampak merusak. Berikut adalah riwayat kegempaan tersebut:
- Sangkulirang, Kalimantan Timur (14 Mei 1921): Gempa berskala VII-VIII MMI ini merusak banyak bangunan secara moderat hingga parah, serta disusul oleh gelombang tsunami yang menghantam pesisir dan muara sungai Sangkulirang.
- Tarakan, Kalimantan Timur (19 April 1923): Gempa dengan magnitudo sangat besar, yakni M=7,0, memicu guncangan berskala VII-VIII MMI. Peristiwa ini merusak banyak hunian penduduk dan menciptakan retakan-retakan pada permukaan tanah.
- Tarakan, Kalimantan Timur (14 Februari 1925): Guncangan gempa susulan kuat dengan intensitas VI-VII MMI kembali menerpa Tarakan, mengakibatkan hancurnya sejumlah bangunan rumah.
- Tarakan, Kalimantan Timur (28 Februari 1936): Tarakan kembali diuji untuk ketiga kalinya oleh gempa bermagnitudo M=6,5 yang juga dilaporkan memicu kerusakan struktural pada hunian warga.
- Pulau Laut, Kalimantan Selatan (5 Februari 2008): Gempa tektonik bermagnitudo M=5,8 memberikan guncangan kuat yang dirasakan warga di Pulau Laut, Pulau Sebuku, Pagatan, Pulau Sembilan, hingga Batulicin.
- Tarakan, Kalimantan Timur (21 Desember 2015): Berpusat di laut, 29 km arah timur laut Tarakan, gempa berukuran M=6,1 ini merusak rumah-rumah penduduk dan tercatat diiringi oleh 16 kali gempa susulan.
- Kendawangan, Kalimantan Barat (24 Juni 2016): Guncangan meluas hingga ke pesisir barat Kalimantan dengan magnitudo M=5,1, yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga.
- Katingan, Kalimantan Tengah (14 Juli 2018): Gempa bermagnitudo M=4,2 yang berskala III-IV MMI dirasakan kuat di daerah Kasongan, Katingan, Bengkuang, dan Batutinggi, serta mengakibatkan setidaknya satu rumah mengalami rusak ringan.
Penyebab Gempa Terjadi di Kalimantan
Dikutip dari situs Sekretariat Negara, gempa di Kalimantan (khususnya wilayah timur seperti Tarakan) berbeda dengan wilayah selatan Indonesia yang berada tepat di batas lempeng utama. Gempa ini terjadi akibat kondisi geologi dan tektonik yang spesifik dan kompleks.
Secara geologis, kawasan Cekungan Tarakan didominasi oleh struktur patahan turun (normal/gravitational fault). Patahan ini terbentuk dari proses pengendapan sedimen (akumulasi beban material) yang masif di kawasan delta, sehingga menyebabkan lapisan batuan mengalami amblas atau penurunan.
Selain itu, terdapat aktivitas subduksi mikro dari arah timur yang menunjam ke bawah Pulau Kalimantan (Borneo).
Kawasan ini juga secara tektonik terjepit oleh tiga sistem sesar mendatar yang patut diwaspadai: Sesar Mangkalihat (kelanjutan dari sistem Sesar Palu-Koro) dan Sesar Maratua di sebelah selatan, serta Sesar Sempurna di utara yang melintang dari Laut Sulawesi.
