Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan (Kalsel) memprediksi puncak El Nino bakal terjadi Agustus-Oktober 2026. Namun, cuaca panas sudah terasa di Kalsel.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Ota Welly Jenny Thalo menjelaskan sejumlah dampak El Nino mulai terasa di Kalsel. Yang mana curah hujan mulai berkurang.
"Namun, dampak El Nino untuk perikanan justru berbanding terbalik. Musim El Nino adalah waktu panen ikan, karena suhu laut dingin dan ikan akan migrasi ke wilayah perairan laut yang dingin," kata Ota saat dihubungi detikKalimantan, Sabtu (11/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ota, terkait cuaca panas yang terjadi di Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir, itu karena sudah masuk musim kemarau. Tutupan awan sedikit membuat bumi menerima panas matahari langsung.
"Sehingga membuat cuaca terasa sangat panas dan malam hari terasa sangat dingin," ujarnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%. Hasil pemantauan BMKG menunjukkan wilayah Tabalong bagian Utara menjadi titik merah yang harus diwaspadai pada kemarau Agustus mendatang. Kemudian, pada September hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan menjadi titik merah kemarau terkecuali Kabupaten Tabalong.
"Wilayah di Kalsel 41 persen saat ini sudah masuk musim kemarau, karena itu cuaca terasa sangat panas," tutur Ota.
"Untuk potensi Karhutla di Kalsel sangat mudah terjadi disebabkan curah hujan yang kurang," sebutnya.
Sementara untuk titik api yang perlu diwaspadai, diungkapkannya ada di wilayah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
