Kebakaran terjadi di beberapa wilayah Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir. Forum Komunikasi (Forkom) Damkar Swasta Kalbar menilai kondisi listrik yang mati dan nyala tak tentu akibat pemadaman listrik bergilir, dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Sekretaris Forkom Damkar Swasta Kalbar, Eddy Zulkarnaen mengatakan, berdasarkan pengalamannya selama sekitar 30 tahun berkecimpung di dunia pemadam kebakaran, frekuensi kebakaran cenderung meningkat saat terjadi pemadaman listrik bergilir.
"Kalau sering terjadi pemadaman bergilir seperti sekarang ini memang dampaknya ada. Sekarang hampir setiap hari ada kebakaran. Coba pada kondisi normal, tidak seperti ini," kata Eddy kepada detikKalimantan, Senin (6/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eddy, kondisi listrik yang berulang kali padam dan menyala kembali di tengah cuaca panas berpotensi memicu gangguan pada instalasi listrik, terutama di rumah-rumah yang menggunakan jaringan lama.
"Kalau kondisi hidup-mati listrik terus menerus, apalagi cuaca panas, potensi kebakaran memang meningkat. Ini berdasarkan pengalaman saya selama puluhan tahun sebagai petugas pemadam kebakaran," ujarnya.
Meski demikian, Eddy menegaskan bukan pemadaman listrik semata yang menjadi penyebab kebakaran. Menurutnya, kebakaran umumnya dipicu oleh kondisi instalasi listrik yang sudah tidak lagi sesuai dengan beban penggunaan.
"Rumah-rumah sekarang sudah banyak tambahan AC, kulkas, kipas angin, bahkan ruangan bertambah, tetapi instalasi listriknya tidak pernah diperbarui. Kabel sudah tua, sambungan longgar, lalu ada material yang mudah terbakar. Sedikit percikan saja bisa menimbulkan api," jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat memeriksa kembali kondisi instalasi listrik di rumah masing-masing, terutama jika instalasi telah digunakan selama bertahun-tahun tanpa peremajaan.
Sekedar diketahui dalam dua hari terakhir, sedikitnya tiga kebakaran terjadi di Kota Pontianak. Pada Sabtu (4/7), sebuah rumah di Jalan Selat Panjang Gang Samiken, Pontianak Utara, terbakar saat ditinggal pemiliknya.
Berdasarkan keterangan kepolisian, penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, sementara kerugian masih didata.
Di hari yang sama, kebakaran juga melanda sebuah home industri tahu di Jalan Parit Pangeran Gang Selamat I, Pontianak Utara. Pemilik mengaku aktivitas produksi dihentikan karena seringnya pemadaman listrik.
Saksi menyebut api muncul tidak lama setelah aliran listrik kembali menyala. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran, namun dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik.
Sehari berselang, Minggu (5/7), kebakaran kembali terjadi di Gang Tengah, Kelurahan Sei Beliung, Pontianak Barat. Dua rumah kopel yang didominasi material kayu dan triplek hangus dilalap api.
Berdasarkan keterangan saksi, api pertama kali terlihat dari dinding kamar yang menghubungkan kedua rumah. Tidak ada korban jiwa, sedangkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
Eddy berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama pemadaman listrik bergilir masih berlangsung. Ia mengingatkan agar penggunaan peralatan listrik, sambungan kabel, maupun instalasi di rumah dipastikan dalam kondisi aman untuk meminimalkan risiko kebakaran.
