Kedatangan Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto ke Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, memicu aksi protes dari sejumlah mahasiswa. Aksi berlangsung saat Mugiyanto memberikan kuliah umum di Gelora 27 Unmul pada Selasa (23/6).
Mahasiswa melakukan aksi simbolik dengan mewarnai telapak tangan mereka menggunakan cat merah. Aksi tersebut dilakukan saat Wamen HAM berada di atas podium menyampaikan materi kepada peserta.
Presiden BEM KM Unmul Hiththan Hersya Putra mengatakan aksi tersebut telah direncanakan sebelumnya sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran Wamen HAM di kampus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu memang sudah kami skemakan dan rencanakan. Ketika kami mengetahui ada agenda Wamen HAM datang ke kampus untuk sosialisasi dan penguatan HAM, kami memutuskan melakukan aksi penolakan," kata Hiththan saat dikonfirmasi detikKalimantan, Rabu (23/6/2026).
Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah, khususnya Kementerian HAM yang dinilai belum serius menyelesaikan berbagai persoalan hak asasi manusia di Indonesia maupun Kalimantan Timur.
"Apapun agenda yang dibawa, kami memandang masih banyak persoalan HAM yang belum terselesaikan. Karena itu kami memberikan sinyal penolakan terhadap kehadiran Wamen HAM," ujarnya.
Hiththan menjelaskan telapak tangan berwarna merah yang ditunjukkan mahasiswa bukanlah kartu merah seperti yang banyak diasumsikan publik. Simbol itu dimaksudkan sebagai kritik terhadap pemerintah terkait berbagai persoalan HAM yang dinilai belum mendapat penyelesaian.
"Itu bukan kartu merah. Tangan kami warnai merah sebagai aksi simbolik untuk menunjukkan bahwa tangan-tangan pemerintah penuh darah teman-teman sendiri," tegasnya.
Selain menyoroti persoalan HAM secara nasional, mahasiswa juga menyinggung berbagai persoalan di Kalimantan Timur. Salah satunya terkait dampak aktivitas pertambangan yang hingga kini masih menjadi sorotan.
Menurut Hiththan, keberadaan puluhan ribu lubang tambang dan korban jiwa akibat lubang bekas tambang menjadi persoalan konkret yang seharusnya mendapat perhatian serius pemerintah.
"Sebanyak 44.736 lubang tambang dan 53 korban lubang tambang menjadi bukti bahwa persoalan HAM di daerah ini sangat krusial. Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi konkret, bukan kegiatan yang sifatnya seremonial," katanya.
Mahasiswa juga mengkritisi revisi Undang-Undang HAM yang saat ini tengah disosialisasikan pemerintah. Mereka menilai terdapat sejumlah persoalan substansial dalam rancangan revisi tersebut, termasuk terkait kewenangan Komnas HAM.
"Kami melihat ada cacat substansial dalam revisi Undang-Undang HAM. Ada penghapusan sejumlah kewenangan dan potensi intervensi terhadap lembaga HAM yang selama ini independen," ujarnya.
Aksi protes tersebut sempat membuat jalannya kuliah umum terhenti sejenak. Namun, mahasiswa akhirnya diberikan kesempatan menyampaikan pandangan mereka secara langsung di hadapan Wamen HAM.
"Kegiatan sempat terhenti karena aksi kami. Setelah itu kami diberikan waktu untuk kami menyampaikan pendapat," kata Hiththan.
Meski demikian, situasi sempat memanas ketika mahasiswa berhadapan dengan petugas keamanan kampus. Hiththan mengaku terjadi aksi saling dorong saat upaya penertiban dilakukan.
"Kami sempat berhadapan dengan satpam dan hampir didorong mundur. Ada lecet-lecet kecil yang dialami teman-teman, tetapi tidak ada yang mengalami luka serius," pungkasnya.
Simak Video "Video Pejabat Kementerian HAM Ditemukan Tewas di Kamar Kosan Palembang"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
