Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 274,79 hektare yang terjadi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah sepanjang 2025 menjadi alarm serius. Seluruh pihak kini memperkuat sinergi untuk mencegah karhutla kembali terjadi pada kemarau 2026.
Langkah pencegahan dilakukan pemerintah daerah bersama perusahaan, aparat keamanan, dan masyarakat melalui Apel Siaga Karhutla di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai. Kecamatan ini tahun lalu mengalami kebakaran terbesar, yakni mencapai 132,69 hektare, disusul Kecamatan Dadahup seluas 62,9 hektare.
Apel siaga dipimpin Bupati Kapuas Muhammad Wiyatno dan dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan dengan kelompok relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Hadir pula Kepala BPBD Kapuas, kepala perangkat daerah terkait, Camat Mantangai dan Dadahup, jajaran manajemen perusahaan, TNI-Polri, kepala desa, tokoh masyarakat, kelompok MPA, serta peserta apel dari berbagai unsur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam arahannya, Wiyatno mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El NiΓ±o kategori moderat hingga kuat yang berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
"Puncak risiko karhutla diperkirakan terjadi pada Juli hingga September. Kabupaten Kapuas, khususnya Mantangai dan Dadahup yang didominasi lahan gambut, sangat rentan terhadap kebakaran apabila tidak diantisipasi sejak dini," ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Wiyatno, pengalaman tahun lalu menjadi pelajaran penting bahwa upaya pencegahan harus lebih diutamakan dibandingkan penanganan saat kebakaran sudah meluas. Terlebih, kebakaran di lahan gambut membutuhkan waktu dan biaya besar untuk dipadamkan.
"Kata kunci kita tahun ini adalah pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, patroli terpadu, dan tanggapan cepat," tegasnya.
Sementara itu, perwakilan perusahaan, Suryanto, mengatakan keberhasilan menekan angka karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara perusahaan, pemerintah desa, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga wilayah tetap aman dari kebakaran.
Ia mengapresiasi kerja sama yang selama ini terjalin dengan desa-desa di sekitar kawasan operasional perusahaan. Melalui kolaborasi tersebut, patroli rutin, sosialisasi, serta edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla akan terus diperkuat.
"Kami juga akan terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah desa, kepolisian, dan TNI. Jika ditemukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, kami akan segera melaporkan dan berkoordinasi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan sesuai ketentuan," katanya.
Melalui apel siaga dan penguatan kolaborasi lintas sektor tersebut, diharapkan risiko kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas selama musim kemarau 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin.
