Musim kemarau perlahan mulai terasa di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Namun, di balik cuaca yang mulai terasa lebih kering, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak terlena.
Pasalnya, hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di berbagai daerah selama masa peralihan musim. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhamad Ihsan Sidiq yang dihubungi dari nomor hotline BMKG Kalteng menjelaskan, berdasarkan analisis perkembangan musim terbaru, Zona Musim (ZOM) Kalteng 11 telah resmi memasuki musim kemarau. Sementara sebagian besar wilayah lainnya masih berada dalam fase pancaroba atau transisi dari musim hujan menuju kemarau.
"ZOM 11 sudah memasuki musim kemarau (warna coklat di peta), sedangkan wilayah lainnya masih berada pada masa transisi (warna hijau di peta)," kata Ihsan kepada detikKalimantan, Senin (15/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah yang masuk ZOM Kalteng 11 (warna coklat di peta) berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau 2026 yang diperbaharui pada dasarian 1 Juni 2026, di antaranya Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Selatan bagian Tengah hingga Selatan, sebagian kecil Kabupaten Barito Selatan bagian Utara, dan sebagian kecil Kabupaten Kapuas bagian Tengah.
"Di daerah-daerah tersebut, curah hujan mulai berkurang dan menjadi tanda awal dimulainya musim kemarau tahun ini," ujarnya.
Meski demikian, kondisi atmosfer di Kalimantan Tengah dinilai masih belum stabil. Situasi ini memungkinkan terbentuknya awan hujan yang dapat memicu cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang mengguyur sebagian besar wilayah Kalteng. Tidak hanya hujan, fenomena tersebut juga berpotensi disertai kilat, petir, dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Waspada Hujan Petir
"Sejumlah daerah yang harus meningkatkan kewaspadaan antara lain Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Pulang Pisau, hingga Kota Palangka Raya," ujarnya.
BMKG menegaskan masa pancaroba merupakan periode yang identik dengan perubahan cuaca cepat. Langit yang tampak cerah pada pagi hingga siang hari tidak menjamin kondisi tetap aman hingga sore atau malam.
"Sering kali cuaca berubah drastis dalam waktu singkat. Hujan lebat bisa datang mendadak dan disertai petir maupun angin kencang," ujarnya.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak, seperti pohon tumbang, genangan di ruas jalan, terganggunya aktivitas transportasi, hingga kerusakan ringan pada bangunan yang rentan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan. "Kemarau memang mulai datang, tetapi ancaman cuaca ekstrem belum benar-benar pergi dari langit Kalimantan Tengah," pungkasnya.
(sun/des)
