Waspada Darah Tinggi, Kenali Penyebab dan Cara Mengobatinya

Waspada Darah Tinggi, Kenali Penyebab dan Cara Mengobatinya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 14 Jun 2026 18:01 WIB
Ilustrasi tekanan darah tinggi atau hipertensi
Foto: Getty Images/iStockphoto/Everyday better to do everything
Samarinda -

Darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Seringkali penyakit ini dianggap sepele karena tidak selalu menimbulkan gejala, padahal sebenarnya dapat memicu berbagai penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kematian dini apabila tidak ditangani dengan baik.

World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 1,4 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun hidup dengan hipertensi pada tahun 2024. Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga populasi dunia pada kelompok usia tersebut. Ironisnya, hampir setengah dari penderita hipertensi tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini.

Karena sering tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas, hipertensi dijuluki sebagai silent killer. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk mengenali penyebab, gejala, serta cara mengendalikan tekanan darah sejak dini. Berikut informasinya dirangkum dari laman World Health Organization (WHO).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Penyakit Darah Tinggi

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah di dalam pembuluh darah berada di angka yang lebih tinggi dari angka normal secara terus-menerus. Tekanan darah sendiri merupakan kekuatan aliran darah yang mendorong dinding pembuluh darah saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Hasil pengukuran tekanan darah ditulis dalam dua angka, misalnya 120/80 mmHg.

Angka pertama disebut tekanan sistolik, yaitu tekanan ketika jantung berkontraksi dan memompa darah. Sementara angka kedua disebut tekanan diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara denyutannya.

Seseorang dinyatakan mengalami hipertensi apabila hasil pemeriksaan pada dua waktu berbeda menunjukkan tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih.

Ketika tekanan darah terlalu tinggi dalam jangka panjang, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Kondisi ini lama-kelamaan bisa merusak pembuluh darah, jantung, ginjal, dan organ vital lainnya.

Penyebab dan Faktor Risiko Hipertensi

Hipertensi bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Sebagian dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup, sementara sebagian faktor lainnya tidak bisa diubah.

Faktor risiko yang dapat dikendalikan antara lain pola makan tinggi garam, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurang mengonsumsi buah serta sayur, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta kelebihan berat badan atau obesitas.

Selain itu, paparan polusi udara juga menjadi salah satu faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Sementara itu, faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia lanjut, riwayat hipertensi dalam keluarga, serta adanya penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit ginjal kronis.

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, hipertensi primer yang umumnya dipengaruhi faktor genetik, usia, dan gaya hidup. Kedua, hipertensi sekunder yang terjadi akibat kondisi tertentu seperti gangguan ginjal, gangguan hormon, efek samping obat-obatan, atau penggunaan zat adiktif tertentu.

Gejala Darah Tinggi yang Tidak Disadari

Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala apa pun. Inilah alasan mengapa banyak orang baru mengetahui dirinya mengidap tekanan darah tinggi setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Namun pada kondisi tekanan darah yang sangat tinggi, terutama ketika mencapai 180/120 mmHg atau lebih, sejumlah gejala bermunculan, antara lain:

  • Sakit kepala berat
  • Nyeri dada
  • Pusing
  • Sesak napas
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan kabur
  • Gangguan penglihatan lainnya
  • Rasa cemas berlebihan
  • Kebingungan
  • Telinga berdenging
  • Mimisan
  • Detak jantung tidak teratur

Jika gejala-gejala tersebut muncul disertai tekanan darah yang sangat tinggi, penderita perlu segera mendapatkan pertolongan medis karena kondisi tersebut bisa berubah menjadi keadaan darurat.

Selain itu, hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, dan gangguan pembuluh darah.

Cara Mengobati dan Mengendalikan Darah Tinggi

Kabar baiknya, hipertensi bisa dikontrol dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan. Langkah pertama yang dianjurkan adalah menerapkan pola hidup sehat. Mengurangi konsumsi garam adalah salah satu cara paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. Selain itu, dianjutkan untuk memperbanyak konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, serta makanan rendah lemak.

Menurunkan berat badan bagi penderita obesitas juga terbukti membantu mengendalikan tekanan darah. Aktivitas fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau olahraga ringan selama minimal 150 menit per minggu, juga sangat dianjurkan.

Menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi alkohol, serta mengelola stres dengan baik turut berperan penting dalam menjaga tekanan darah tetap stabil. Bagi sebagian orang, perubahan gaya hidup saja belum cukup. Dokter mungkin akan meresepkan obat antihipertensi untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mencegah komplikasi.

Target tekanan darah yang dianjurkan umumnya berada di bawah 140/90 mmHg. Namun pada penderita diabetes, penyakit ginjal kronis, atau penyakit jantung, dokter biasanya menargetkan tekanan darah lebih rendah, yakni di bawah 130/80 mmHg.

Karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah paling penting untuk mendeteksinya sejak dini. Pemeriksaannya juga cepat, mudah, dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Detikers bisa memeriksakan tekanan darah di fasilitas kesehatan atau menggunakan alat pengukur tekanan darah otomatis di rumah. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat tidak dipungut biaya alias gratis menggunakan BPJS. Tetapi perlu diingat, hasil pengukuran tetap sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang lebih akurat.

Demikian informasi seputar penyebab dan cara mengobati tekanan darah tinggi. Segera periksa sebelum terlambat.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads