Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Simpang Hilir-Telok Melano, Kabupaten Kayong Utara diterpa isu makanan mengandung zat berbahaya hingga kabar dapur berada di bekas bangunan sarang walet. Pengelola SPPG membantah dengan menunjukkan hasil uji laboratorium.
"Seluruh makanan yang diproduksi dan didistribusikan kepada penerima manfaat telah melalui pengawasan serta pengujian laboratorium," kata Kepala SPPG Simpang Hilir-Telok Melano, Ansori kepada detikKalimantan, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, hasil uji laboratorium yang diterbitkan pada 20 Oktober 2025 menunjukkan tidak ditemukan kandungan zat berbahaya pada sampel makanan maupun bahan baku yang digunakan dalam program tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil uji laboratorium sudah keluar dan hasilnya negatif. Jadi kami berbicara berdasarkan data dan hasil pemeriksaan resmi, bukan asumsi atau spekulasi," kata Ansori.
Ia menilai informasi yang menyebut makanan Program MBG berbahaya tidak didukung fakta ilmiah. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Ia juga menyesalkan munculnya pemberitaan dan narasi yang dinilai dapat memicu keresahan di tengah masyarakat tanpa didukung data yang jelas.
"Kami berharap masyarakat melihat fakta yang ada. Jangan sampai terjadi penggiringan opini yang justru menimbulkan ketakutan dan merugikan program yang bertujuan membantu pemenuhan gizi anak-anak," ujarnya.
Bantah Dapur Beroperasi di Sarang Walet
Selain soal keamanan makanan, Ansori turut membantah tudingan bahwa dapur MBG beroperasi di bangunan yang masih difungsikan sebagai sarang walet.
Menurutnya, bangunan tersebut sudah lama tidak digunakan untuk usaha walet sebelum dialihfungsikan menjadi dapur pengolahan makanan.
Sebelum beroperasi, kata dia, bangunan telah melalui proses renovasi, pembersihan, serta penataan ulang agar memenuhi standar yang dipersyaratkan.
"Itu tidak benar. Bangunan tersebut sudah lama tidak digunakan sebagai sarang walet. Sebelum dijadikan dapur, seluruh area sudah dibersihkan dan diperbaiki sehingga layak digunakan," tegasnya.
Bantahan serupa disampaikan Camat Simpang Hilir, Apan. Ia memastikan bangunan yang kini digunakan sebagai dapur MBG tidak lagi berfungsi sebagai sarang walet jauh sebelum program berjalan.
Menurut Apan, pemerintah kecamatan mengetahui proses pembersihan dan perbaikan yang dilakukan sebelum dapur mulai beroperasi.
"Bangunan itu memang sudah lama tidak difungsikan sebagai sarang walet. Ketika digunakan untuk dapur MBG, kondisinya sudah dibersihkan dan diperbaiki terlebih dahulu," katanya.
Apan juga menegaskan hasil uji laboratorium yang dimiliki pihak pengelola menunjukkan tidak ditemukan zat berbahaya pada makanan yang sempat menjadi sorotan.
Dinilai Bantu Gizi Anak dan Serap Tenaga Kerja
Di tengah polemik yang muncul, Apan menilai Program MBG telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membantu pemenuhan gizi anak-anak sekolah.
Selain itu, keberadaan dapur MBG juga disebut membuka peluang kerja bagi warga sekitar serta menggerakkan ekonomi lokal.
"Banyak tenaga kerja lokal yang terserap. Orang tua juga terbantu karena beban pengeluaran untuk kebutuhan makan anak berkurang," ujarnya.
Pihak SPPG maupun pemerintah kecamatan berharap masyarakat menyikapi setiap informasi secara objektif dan mengedepankan hasil pemeriksaan resmi. Mereka menilai kritik dan pengawasan tetap penting, namun harus disertai data yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
