Waspada El Nino Super, Kenali Karakteristiknya

Waspada El Nino Super, Kenali Karakteristiknya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 21 Mei 2026 11:32 WIB
Apa Perbedaan El Nino dan La Nina? Kenali Dampaknya Bagi Indonesia
Kekeringan dan hujan ekstrem. Foto: Wikitxiki5/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0
Samarinda -

Belakangan ini, istilah El Nino Super kembali ramai dibicarakan. Sejumlah laporan mencatat peningkatan suhu laut di Samudra Pasifik yang dinilai berpotensi memicu El Nino kuat pada 2026 hingga 2027. Fenomena ini bahkan disebut-sebut dapat mendorong adanya rekor suhu terpanas.

Kondisi tersebut membuat Indonesia meningkatkan kewaspadaan karena negara ini cukup rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kekeringan panjang, kebakaran hutan, gagal panen, hingga krisis air bersih menjadi ancaman yang sering muncul ketika El Nino terjadi.

Fenomena serupa sebenarnya pernah terjadi pada periode 2023-2024. Saat itu, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat secara ekstrem hingga memicu perubahan pola cuaca di dunia. Dampaknya terasa di berbagai belahan dunia, mulai dari banjir besar di Amerika Selatan hingga kekeringan parah di Asia Tenggara dan Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, apa sebenarnya El Nino Super itu? Dan apa saja dampaknya bagi Indonesia?

Apa Itu El Nino?

El Nino adalah fase hangat dari fenomena ENSO (El NiΓ±o-Southern Oscillation), yaitu perubahan iklim alami yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik.

Fenomena ini menyebabkan perubahan sirkulasi atmosfer dan pola angin global. Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke wilayah barat Pasifik termasuk Indonesia. Namun saat El Nino terjadi, angin tersebut melemah sehingga air hangat bergerak kembali ke tengah dan timur Pasifik.

Akibatnya, pola hujan dan cuaca di berbagai wilayah dunia ikut berubah. Beberapa negara mengalami hujan ekstrem dan banjir, sementara wilayah lain justru mengalami kekeringan berkepanjangan dan suhu panas ekstrem.

Menurut World Meteorological Organization (WMO), El Nino biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan.

Mengapa Disebut El Nino Super?

Istilah El Nino Super digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Kondisi ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari +2 derajat Celsius di atas normal.

Fenomena seperti ini tergolong langka. Sejak 1950, El Nino super hanya terjadi beberapa kali, termasuk pada periode 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Pada El Nino 2023-2024, anomali suhu laut di wilayah NiΓ±o 3.4 tercatat melampaui +2 derajat Celsius sehingga memenuhi kategori El Nino sangat kuat. Pemanasan laut terjadi secara luas dari Pasifik tengah hingga timur dan memengaruhi cuaca global secara ekstrem.

Saat ini, para ilmuwan kembali memantau tanda-tanda kemunculan El Nino kuat pada 2026. Berdasarkan prakiraan terbaru International Research Institute for Climate and Society di Columbia University, peluang El Nino berkembang pada Juni 2026 mencapai sekitar 70 persen dan diperkirakan bertahan hingga akhir tahun.

Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang El Nino berkembang mencapai 82 persen pada periode Mei-Juli 2026 dan meningkat hingga 96 persen menuju awal 2027.

Meski begitu, WMO juga menjelaskan bahwa istilah super El Nino Super sebenarnya bukan istilah resmi dalam meteorologi. Namun istilah tersebut tetap digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan dampak yang sangat besar.

Karakteristik El Nino Super 2023-2024

El Nino super memiliki sejumlah karakteristik yang berbeda dari El Nino biasa. Fenomena pada 2023-2024 mulai berkembang sejak Mei 2023 dan mencapai puncaknya pada Oktober hingga Desember 2023. Suhu permukaan laut di Pasifik tropis meningkat secara drastis dan meluas.

Ada beberapa model iklim global seperti NOAA, ECMWF, dan BoM Australia yang melaporkan tren penghangatan laut yang kembali meningkat pada 2026. Bahkan beberapa model memperkirakan anomali suhu dapat melampaui 2 derajat Celsius untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Peneliti dari Union of Concerned Scientists, Marc Alessi, mengatakan bahwa kemungkinan suhu global mencapai anomali di atas 2 derajat Celsius saja sudah cukup mengejutkan bagi komunitas ilmiah.

Selain meningkatkan suhu laut, El Nino super juga menyebabkan suhu udara meningkat tajam. Kombinasi El Nino kuat dan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca membuat risiko cuaca ekstrem menjadi lebih besar.

Di Amerika Selatan, terutama Peru dan Ekuador, fenomena ini menyebabkan hujan lebat dan banjir besar di wilayah pesisir. Sementara Afrika Timur mengalami peningkatan curah hujan yang memicu risiko banjir dan longsor. Sebaliknya, Asia Tenggara, Australia, dan sebagian Asia Selatan mengalami kekeringan panjang dan suhu panas ekstrem.

Di Amerika Utara, El Nino memengaruhi pola badai dan membuat sebagian wilayah mengalami musim dingin lebih hangat.

Fenomena ini juga bisa berdampak ke aktivitas badai tropis. El Nino cenderung mengurangi badai di Samudra Atlantik tetapi meningkatkan potensi badai kuat di Pasifik. Nah, di Indonesia sendiri pada 2023-2024, curah hujan di sejumlah daerah turun hingga 50-90 persen, terutama selama musim kemarau.

Akibatnya, banyak daerah mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Waduk serta sumber air di Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Sulawesi mengalami penurunan debit yang signifikan.

Sulawesi Tengah termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup serius. Daerah ini mengalami musim kering berkepanjangan dan adanya peningkatan titik kebakaran. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan meningkat di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, seperti yang dilaporkan BMKG.

Perspektif WALHI dan BRIN

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengingatkan bahwa El Nino bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem, tetapi juga berkaitan dengan krisis sosial dan ekologis.

Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Nino dapat memicu fenomena upwelling atau naiknya air laut kaya nutrisi dari dasar laut ke permukaan. Fenomena ini berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan karena memperbanyak fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut. Namun, WALHI menilai peningkatan potensi ikan tidak otomatis menguntungkan masyarakat pesisir.

Dalam rilis resminya, pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, Mida Saragih, menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan hanya apakah ikan bertambah, tetapi siapa yang dapat mengakses sumber daya tersebut.

Menurut WALHI, tanpa tata kelola yang adil, fenomena El Nino justru berpotensi memperkuat ketimpangan dan perampasan ruang hidup masyarakat pesisir. WALHI juga meminta pemerintah menyusun rencana penyelamatan wilayah kepulauan, termasuk pemetaan daerah rawan bencana, krisis air, dan krisis pangan. Selain itu, rehabilitasi ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang dinilai perlu diperkuat sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.

Menghadapi ancaman El Nino super, kesiapsiagaan menjadi satu langkah paling penting. Masyarakat perlu mulai menghemat penggunaan air, mengantisipasi cuaca panas ekstrem, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan. Petani juga dianjurkan menyesuaikan pola tanam serta menggunakan varietas yang lebih tahan kekeringan.

Demikian terkait El Nino Super dan karakteristiknya, mulai sekarang tingkatkanlah kewaspadaan dan selalu jaga kesehatan. Semoga bermanfaat!

Halaman 3 dari 4
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads