Kematian Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) menyisakan kisah tragis. Terlepas dari penyebab kematiannya yang belum jelas, kemiskinan terbukti menjadi masalah besar yang belum ditangani dengan baik.
Kisah sepatu Mandala yang kekecilan belakangan viral di media sosial. Semua pihak disebut bertanggung jawab atas masalah ini. Berikut sederet fakta terkait kasus meninggalnya Mandala.
Fakta Pilu Sepatu Sempit Mandala
Kasus ini menjadi sorotan setelah adanya kabar viral di media sosial. Disebutkan bahwa Mandala setiap hari harus mengenakan sepatu kekecilan. Sepatu itu tetap dipaksa dipakai untuk sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, menelusuri langsung kasus ini dan melihat kondisi sepatu yang dikenakan Mandala.
"Waktu saya lihat memang sepatunya sudah rusak. Alas bawahnya tipis, sobek, bahkan di dalamnya disumpal pakai busa warna merah muda supaya kakinya agak nyaman," ujar Rina.
Mandala sempat mengalami kaki bengkak hingga nyeri menjalar sampai pinggang dan kepala.
"Dia sempat chat ke temannya bilang sepatunya sudah sempit, sakit dipakai, tapi tetap dipaksakan karena enggak mau menyusahkan ibunya," ucap Rina. "Dia sampai jalan harus pegangan dinding. Nafsu makannya juga turun, badannya kurus sekali," tambahnya.
Bahkan pada suatu malam, saat berbincang mengenai keinginan memiliki sepatu baru, sang ibu berjanji akan membelikan sepatu bersama. Namun Mandala menjawab bahwa ia baru ingat dirinya adalah seorang yatim.
"Itu yang bikin saya sedih sekali," kata Rina menceritakan percakapan tersebut.
Kondisi Ekonomi dan Kronologi
Pihak SMKN 4 Samarinda menyampaikan duka cita mendalam dan membeberkan kronologi melalui akun Instagram @smkn4_samarinda agar tidak timbul kesalahpahaman.
"Segenap keluarga besar SMK 4 turut berduka cita atas berpulangnya Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 yang kami cintai. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat, kami ingin berbagi cerita kronologis kejadian ini dengan hati yang terbuka. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengenang dan memetik pelajaran bersama," tulis akun tersebut.
Kondisi fisik Mandala sudah mulai terlihat menurun sejak 1 April, di mana ia datang ke sekolah dengan wajah pucat. Saat kondisinya memburuk, Mandala tidak pernah dibawa ke rumah sakit karena status kepesertaan BPJS Kesehatan keluarganya tidak aktif akibat tunggakan. Sang ibu yang bekerja berjualan risol dan es juga berada dalam kondisi himpitan ekonomi yang sulit.
"Kadang mereka makan sehari sekali. Ibunya itu jam satu malam sudah bangun bikin risol untuk dijual pagi," ucap Rina.
Fakta mengenai sepatu yang kekecilan ini pun sempat dirahasiakan oleh pihak keluarga dan baru terungkap saat kunjungan pihak sekolah pada 23 April.
"Ibu Mandala baru menyampaikan bahwa sepatu anaknya sudah tak muat dipakai. Mandala pernah mengeluh soal itu kepada ibunya, tapi ibunya sendiri mengakui bahwa ia melarang Mandala bercerita ke sekolah atau teman-teman. 'Jangan sampai orang tahu kita kesusahan,' pesan itu yang sering disampaikan Ibunya kepada Mandala. Mendengar itu, wali kelas segera bergerak. Ia berkoordinasi dengan teman sekelas untuk membelikan sepatu baru. Rencana bantuan pun disusun," ungkap pihak sekolah.
Namun, belum sempat rencana itu terlaksana sepenuhnya, Mandala telah mengembuskan napas terakhir pada Jumat (24/4).
Penjelasan Medis
Sekolah membantah bahwa sepatu adalah penyebab pasti meninggalnya Mandala, karena tidak ada riwayat pemeriksaan klinis yang memadai.
"Berdasarkan keterangan kakak dan ibunya, Mandala ternyata tidak pernah diperiksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya, sehingga penyebab pasti meninggalnya tidak diketahui secara medis. Ibu Mandala hanya mengoleskan Fresh Care pada bengkak di kaki Mandala dan memberinya Sangobion karena berasumsi Mandala mengalami kurang darah," tulis pernyataan sekolah.
Menanggapi masalah ini, dokter spesialis ortopedi konsultan Foot and Ankle dari Siloam Hospitals Mampang, dr Langga Sintong, SpOT(K) menyatakan bahwa risiko kematian akibat sepatu kekecilan probabilitasnya amat kecil, walau tidak menutup kemungkinan aliran darah bisa terdampak.
"Apa saja bisa terjadi. Tapi, untuk kasus ini, tidak tahu bagaimana hal tersebut mengakibatkan hal yang fatal karena tidak tahu riwayatnya (medis) persis," kata dr Langga.
"Bisa saja (kaki bengkak menjadi fatal), jika pembuluh darahnya bisa tertekan atau tersumbat," sambungnya.
"Jika tersumbat, jelas mengganggu aliran darah. Kemudian lama-lama bisa terjadi blood clot (gumpalan darah), terus jadi deep vein thrombosis, terus bisa lepas jadi emboli, nyangkut di paru, bisa sesak. Tapi ini jarang banget, apalagi dari sepatu sempit. Harusnya nggak," jelas dr Langga.
Semua Pihak Dianggap Lalai
Rentetan nestapa kehidupan Mandala mencerminkan kurang pekanya lingkungan sekitar terhadap penderitaan yang tak selalu diucapkan. Rina dari TRC PPA Kaltim tak menampik adanya kelalaian kolektif dalam insiden ini.
"Kalau saya bilang ini semua lalai. Orang tua lalai, sekolah lalai, pemerintah lalai, termasuk saya juga terlambat tahu," tuturnya.
"Jangan sampai ada Mandala-Mandala lain lagi. Hilangkan rasa malu kalau memang butuh bantuan," tegasnya.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani, juga mengingatkan betapa pentingnya kepekaan lingkungan melihat tanda-tanda anak yang butuh bantuan.
"Kadang anak itu enggak selalu bisa menyampaikan langsung apa yang dia rasakan atau butuhkan. Di situlah pentingnya kepedulian dari lingkungan sekitar," ujar Ayunda.
"Anak kadang enggak enak cerita atau enggak tahu harus mengadu ke siapa. Karena itu lingkungan perlu lebih peka," imbuhnya.
Ayunda memandang bahwa peduli tak harus berupa materi dan tak perlu menunggu viral baru ada uluran tangan.
Kasus Mandala harus menjadi alarm bagi semua pihak agar kepekaan sosial tumbuh dalam kehidupan sehari-hari sebelum semuanya usai.
"Jangan sampai kita baru tersentuh setelah ada kejadian besar. Kepedulian itu idealnya hadir sebelum semuanya terlambat," ucap Ayunda.
"Kadang bantuan paling penting itu bukan selalu soal materi, tapi ada orang yang mau melihat dan peduli," pungkasnya.
