Ironi Mandala dan Sepatu Sempit, TRC PPA Sebut Semua Pihak Lalai

Ironi Mandala dan Sepatu Sempit, TRC PPA Sebut Semua Pihak Lalai

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 06 Mei 2026 21:01 WIB
BW Worn Tennis Shoes
Ilustrasi sepatu. Foto: Getty Images/iStockphoto/kryzanek
Samarinda -

Kematian Mandala Rizky Syaputra, siswa SMKN 4 Samarinda, menyisakan cerita pilu. Di balik kabar soal sepatu sempit yang dipaksa dipakai hingga kaki membengkak, muncul fakta tentang keluarga yang hidup kekurangan dan anak yang memilih menahan sakit karena tak ingin jadi beban.

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun mengaku mulai menelusuri kasus itu usai menerima laporan dari salah satu komite sekolah pada 25 April lalu. Saat datang ke rumah duka, ia mendengar langsung cerita keluarga hingga melihat kondisi sepatu yang dipakai Mandala selama sekolah.

"Waktu saya lihat memang sepatunya sudah rusak. Alas bawahnya tipis, sobek, bahkan di dalamnya disumpal pakai busa warna merah muda supaya kakinya agak nyaman," ujar Rina kepada detikKalimantan, Rabu (6/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan Mandala disebut memakai sepatu ukuran 43 sejak kelas 1 SMK. Padahal, ukuran kakinya diduga sudah membesar hingga 44 atau 45. Namun sepatu itu tetap dipaksa dipakai, termasuk saat menjalani magang di pusat perbelanjaan yang membuatnya harus berdiri seharian.

"Dia sempat chat ke temannya bilang sepatunya sudah sempit, sakit dipakai, tapi tetap dipaksakan karena enggak mau menyusahkan ibunya," ucap Rina.

Rina mengungkapkan Mandala mulai mengeluhkan sakit sejak menjalani magang pada bulan Ramadan. Kakinya membengkak hingga nyeri menjalar sampai pinggang dan kepala. Namun kondisi itu disebut terus ditahan.

"Dia sampai jalan harus pegangan dinding. Nafsu makannya juga turun, badannya kurus sekali," ujarnya.

Rina juga menemukan percakapan Mandala dengan wali kelas yang memperlihatkan foto kaki bengkak miliknya. Dalam pesan itu, Mandala mengaku tetap memaksa memakai sepatu meski sakit karena tak ingin merepotkan sang ibu.

"Kalimatnya yang paling saya ingat, dia bilang enggak mau menyusahkan ibunya," katanya.

Menurut Rina, kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu alasan Mandala tidak pernah dibawa ke rumah sakit. BPJS keluarga disebut menunggak, sementara ibunya hanya berjualan risol dan es untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kadang mereka makan sehari sekali. Ibunya itu jam satu malam sudah bangun bikin risol untuk dijual pagi," ucapnya.

Rina mengatakan sehari sebelum meninggal, teman-teman Mandala sempat datang membawakan uang sekitar Rp1,6 juta untuk membantu membeli sepatu baru. Malam harinya, Mandala juga sempat berbincang dengan ibunya soal keinginannya memiliki sepatu baru.

Rina merasa sedih mendapat cerita tentang percakapan terakhir Mandala dengan ibunya. Janji sang ibu untuk membeli sepatu bersama Mandala, dijawab sang anak yang mengaku baru ingat bahwa dirinya adalah seorang yatim.

"Itu yang bikin saya sedih sekali," katanya.

Rina menegaskan dirinya tidak ingin menyalahkan satu pihak tertentu dalam kasus tersebut. Namun ia menilai semua pihak seharusnya bisa lebih peka terhadap kondisi anak-anak dari keluarga tidak mampu.

"Kalau saya bilang ini semua lalai. Orang tua lalai, sekolah lalai, pemerintah lalai, termasuk saya juga terlambat tahu," tuturnya.

Ia berharap kasus Mandala menjadi evaluasi bersama, terutama soal pendataan siswa kurang mampu dan keberanian keluarga untuk terbuka kepada sekolah jika mengalami kesulitan ekonomi.

"Jangan sampai ada Mandala-Mandala lain lagi. Hilangkan rasa malu kalau memang butuh bantuan," pungkasnya.




(aau/aau)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads