Impian Para Perantau yang Kandas di Balik Tragedi Bus ALS

Regional

Impian Para Perantau yang Kandas di Balik Tragedi Bus ALS

Welly Jasrial Tanjung - detikKalimantan
Jumat, 08 Mei 2026 10:30 WIB
Tangis Hambali mengetahui anak, menantu dan cucunya jadi korban Bus ALS terbakar di Muratara
Hambali, ayah dan mertua korban kecelakaan bus ALS. Foto: (Foto: Rika Amelia)
Palembang -

Sebanyak 16 orang menjadi korban jiwa dalam kecelakaan bus ALS dan mobil tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Sejumlah keluarga mengungkap bahwa para korban tengah dalam perjalanan menuju Pekanbaru, Riau, untuk merantau. Sayangnya, impian mereka merantau untuk mendapat penghidupan yang lebih baik itu kandas di tengah jalan.

Dikutip dari detikSumbagsel, di antara para korban terdapat satu keluarga yakni Aldi Setiawan (26), Agustina Maharani (24), dan anak mereka yang masih berusia 1 tahun bernama Bela. Hambali, ayah Agustina, mengungkap bahwa keluarga anak-menantunya itu hendak bekerja di tempat baru.

"Mereka ini mau pergi ke Pekanbaru Riau, untuk merantau bekerja di kebun sawit, diajak keluarga di sana," tuturnya ditemui di ruang tunggu keluarga RS Bhayangkara Palembang, Kamis (7/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria asal Way Kanan, Lampung itu mengaku sudah mendengar kabar tentang kecelakaan bus ALS yang membawa anak-menantu serta cucunya itu sejak Rabu (6/5). Namun, ia baru bisa berangkat dari Way Kanan dan tiba di Palembang pada Kamis (7/5) pagi. Jenazah tiga anggota keluarganya baru keluar dari ruang autopsi pukul 11.30 WIB.

Menurut Hambali, sebelumnya Aldi bekerja serabutan di kampung mereka di Way Kanan. Setelah itu, ada keluarga yang mengajak Aldi memperbaiki nasib di sebuah kebun sawit di Pekanbaru. Keluarga mendukung walaupun sebetulnya Aldi baru mulai membangun rumah di Way Kanan.

"Baru dua hari membangun rumah, saya bantu-bantu membeli material, ternyata mereka bilang mau pergi merantau ke Pekanbaru untuk bekerja di sana," tutur Hambali.

Sebenarnya, Aldi sekeluarga sudah membeli tiket bus Handoyo yang berangkat Minggu (3/5), tapi mereka ketinggalan bus. Mereka pun membeli tiket baru yang berangkat pada Rabu pagi.

"Mereka diantar besan saya. Tiba-tiba saya lihat di berita dan media sosial bus ALS kecelakaan, saya cek nomor busnya dan ternyata itu bus yang ditumpangi Rani dan suami serta cucu saya," ujarnya.

Hambali mengaku paling sedih mengingat cucunya, Bela, yang juga turut menjadi korban. Bela merupakan cucu pertamanya.

"Saya itu sedih ingat cucu, cucu pertama dari anak pertama saya," lanjutnya.

Anggota keluarga lainnya, Kamdi (45), mengatakan Aldi merupakan sosok yang pekerja keras. Aldi juga ulet sebagai kepala keluarga dan serius membangun masa depan bersama keluarga kecilnya. Sampai-sampai ketika Aldi berniat membangun rumah, Kamdi sebagai paman Rani pun tak segan membantu.

"Karena saya bisa tukang bangunan, saya bantu belikan pasir dan semen. Aldi sempat cetak batako sekitar 200 buah," jelas Kamdi.

Kini, batako-batako tersebut masih tersimpan di kampung halaman mereka dan belum disusun jadi rumah. Keluarga belum memutuskan akan diapakan batako-batako tersebut, karena pemiliknya sudah tiada. Nantinya, jenazah Aldi, Rani, dan putri mereka akan langsung dibawa pulang ke Way Kanan.

"Rani sama anaknya nanti mau dimakamkan satu liang. Kalau suaminya dipisah," kata Kamdi.

Baca selengkapnya di detikSumbagsel.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video 16 Jenazah Kecelakaan Bus ALS Dibawa ke RS Lubuklinggau"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads