Kasus Sepatu Mandala, Psikolog Soroti Kepedulian Kerap Datang Terlambat

Kasus Sepatu Mandala, Psikolog Soroti Kepedulian Kerap Datang Terlambat

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 06 Mei 2026 21:31 WIB
Sepatu sekolah yang kekecilan
Sepatu sekolah yang kekecilan. Foto: Ilustrasi AI diolah oleh Gemini AI
Samarinda -

Meninggalnya Mandala Rizky Syaputra, siswa SMKN 4 Samarinda yang viral karena disebut memakai sepatu kekecilan, dinilai psikolog menjadi pengingat penting soal kepedulian sosial di lingkungan sekitar.

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani mengatakan kasus Mandala bukan hanya soal kondisi ekonomi keluarga, namun juga bagaimana lingkungan mampu membaca tanda-tanda ketika ada anak yang membutuhkan bantuan. Peristiwa itu disebut seharusnya membuka mata banyak pihak agar lebih peka terhadap kondisi anak-anak di sekitar mereka.

"Kadang anak itu enggak selalu bisa menyampaikan langsung apa yang dia rasakan atau butuhkan. Di situlah pentingnya kepedulian dari lingkungan sekitar," ujar Ayunda kepada detikKalimantan, Rabu (6/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai kepedulian sosial seharusnya tidak berhenti pada rasa iba setelah sebuah kasus viral. Menurutnya, perhatian kecil dari lingkungan sekitar justru bisa sangat berarti bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.

"Hal-hal sederhana seperti memperhatikan perubahan kondisi anak, bertanya kabarnya atau memastikan kebutuhannya terpenuhi itu sebenarnya bentuk kepedulian sosial juga," katanya.

Ayunda menyebut sekolah, teman sebaya hingga masyarakat sekitar memiliki peran penting untuk saling memperhatikan. Sebab dalam banyak kasus, anak sering kali memilih diam meski mengalami kesulitan.

"Anak kadang enggak enak cerita atau enggak tahu harus mengadu ke siapa. Karena itu lingkungan perlu lebih peka," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya saling peduli tanpa harus menunggu sesuatu menjadi viral terlebih dahulu. Menurutnya, kepekaan sosial perlu tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

"Jangan sampai kita baru tersentuh setelah ada kejadian besar. Kepedulian itu idealnya hadir sebelum semuanya terlambat," ucapnya.

Ayunda berharap kasus Mandala dapat menjadi refleksi bersama bahwa perhatian terhadap kondisi anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga seluruh lingkungan sosial di sekitarnya.

"Kadang bantuan paling penting itu bukan selalu soal materi, tapi ada orang yang mau melihat dan peduli," pungkasnya.



(aau/aau)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads