Jagat maya sempat dihebohkan video amatir yang memperlihatkan perjuangan sopir angkutan sembako di jalur perbatasan Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Menanggapi keluhan para 'pejuang sembako' tersebut, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Utara buka suara.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perbatasan 2 BPJN Kaltara, Yustiana Tri Hatmaka, menjelaskan penanganan jalan di kawasan tersebut sedang dalam masa transisi kontrak. Ia meminta masyarakat, khususnya para sopir, untuk bersabar karena proses pengerjaan rutin akan segera dimulai.
"Tahun ini kegiatan pemeliharaan rutin jalan kami di sana rencananya akan bekerja sama dengan TNI melalui skema Swakelola Tipe 2. Saat ini masih tahap diskusi untuk tanda tangan kontrak," ujar Yustiana saat dikonfirmasi detikKalimantan, Selasa (5/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yustiana menargetkan kontrak tersebut dapat ditandatangani dalam waktu dekat agar alat berat bisa segera dimobilisasi ke lapangan. "Mudah-mudahan minggu ini bisa tanda tangan kontrak. Kami usahakan akhir bulan Mei atau awal Juni pengerjaan sudah mulai efektif di sana," tambahnya.
Selain masalah jalan yang berlumpur bak bubur, sorotan juga tertuju pada proyek jembatan baja di ruas Nawang-Datadian yang belum tuntas. Yustiana mengungkapkan fakta mengejutkan di balik mangkraknya sejumlah titik jembatan tersebut.
"Dari target 37 jembatan, sebanyak 14 jembatan gagal dibangun tepat waktu karena faktor alam yang ekstrem," rincinya.
Sejumlah komponen rangka baja jembatan dilaporkan hilang tersapu banjir bandang sebelum sempat dirakit. "Ada hambatan di lapangan, beberapa komponen jembatan baja yang harusnya sampai di lokasi ternyata terkena banjir di KM 122 dan hilang terbawa arus. Itu mengakibatkan 14 jembatan gagal dibangun karena komponennya tidak lengkap," ungkapnya.
Sebagai solusi darurat, BPJN Kaltara telah melaporkan kejadian ini ke pusat untuk pengadaan komponen baru. Dalam waktu dekat, pihaknya memprioritaskan penuntasan dua jembatan vital, yakni Jembatan Kihan dan Jembatan Agung.
"Dua jembatan ini urgensinya sangat penting karena bentangnya panjang. Jika ini tuntas, mobilitas masyarakat dari Long Pujungan ke Nawang tidak perlu lagi bergantung pada pasang surut air sungai," tegas Yustiana.
Terkait keluhan sopir mengenai titik KM 35 Sungai Lirung yang kerap memutus akses, BPJN mengklaim telah melakukan langkah preventif meski belum maksimal. Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk peminjaman alat berat, terus dilakukan untuk menjaga fungsionalitas jalan.
"Dua minggu lalu kami sudah tangani beberapa titik jalan yang rusak saja sebagai penanganan darurat. Kami paham kondisinya, maka dari itu kami minta teman-teman driver bersabar. Kami sedang berproses agar logistik BBM dan sembako tetap bisa lancar sampai ke Nawang," pungkasnya.
Sebelumnya, viral video curhatan seorang sopir bernama Josi alias Kilet Lawai yang mengeluhkan kondisi jalanan hancur parah. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan kendaraan yang terjebak di tanjakan berlumpur dan memaksa para sopir harus menginap berhari-hari di tengah hutan demi mengantar kebutuhan pokok warga perbatasan.
(sun/des)
