Hari Ke-3 Jembatan Ambruk di Malinau, Warga Bikin Jalur Darurat

Hari Ke-3 Jembatan Ambruk di Malinau, Warga Bikin Jalur Darurat

Oktavian Balang - detikKalimantan
Sabtu, 11 Apr 2026 10:01 WIB
Warga gotong royong membangun jembatan darurat di Malinau.
Warga gotong royong membangun jembatan darurat di Malinau. Foto: Dok. Istimewa
Malinau -

Memasuki hari ketiga pasca-ambruknya jembatan penghubung utama 4 kecamatan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), warga setempat bergotong royong membangun jembatan darurat dari batang pohon demi menjaga ekonomi tetap berjalan. Berdasarkan laporan Personil Polsek Kayan Hulu, Rafinaldi Kandow, warga berinisiatif memotong pohon-pohon berukuran besar di sekitar lokasi longsor.

"Jadi, batang-batang pohon itu disusun jadi alas jembatan sementara agar kendaraan dan warga yang sempat terisolir bisa perlahan melintas,"ungkapnya melalui pesan suara. Sabtu (11/4/2026).

Camat Kayan Selatan Hendri Lencau membenarkan kondisi di lapangan. Ia menyebut inisiatif warga muncul karena mendesaknya kebutuhan akses logistik, terutama BBM dan LPG, dari kota menuju perbatasan.

"Memang harus seperti itu masyarakat kita. Kalau kita hanya menunggu kebijakan, kami tidak akan bisa dapat apa-apa. Sembari menunggu, warga buat jembatan sementara," kata Hendri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski akses jalan dan jembatan tersebut berstatus kewenangan pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau merespons cepat kondisi darurat ini dengan menerjunkan alat berat (ekskavator) milik UPTD.

"Saat ini, alat berat dilaporkan sudah dalam perjalanan dari Lapangan Mahak menuju titik jembatan putus di Kilometer 33," terangnya.

Hendri menjelaskan alat berat tersebut tidak bisa langsung tiba di lokasi karena harus menempuh jarak sekitar 33 kilometer dengan medan yang sangat berat.

"Tidak mungkin mereka cuma bawa alat langsung ke titik yang putus itu. Pasti mereka akan sapu (perbaiki) kondisi-kondisi jalannya yang penuh lubang dan cukup parah. Jadi saat ini alat berat sedang bergerak menuju lokasi sambil memperbaiki jalan yang bisa mereka bantu," jelas Hendri.

Menurut Hendri, warga menilai pemerintah pusat kurang memperhatikan pembangunan infrastruktur jalan di perbatasan, khususnya akses satu-satunya dari kawasan perbatasan menuju kota. Apalagi, perbaikan akses jalan ini sangat krusial karena pada bulan Juni mendatang akan digelar acara besar berskala regional.

"Bulan Juni nanti akan ada Konferensi Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) se-Apokayan yang dipusatkan di Mahak Baru. Seluruh masyarakat Apokayan akan berkumpul di sana. Warga was-was jalan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat," ungkap Hendri.

Terkait hal tersebut, pihak kecamatan telah melayangkan surat resmi kepada Bupati Malinau untuk diteruskan kepada Kementerian PUPR (BPJN) di pusat.

"Kami sudah bersurat agar pemerintah pusat segera memperbaiki secara permanen jalan antara Sungai Boh dan Kayan Selatan ini sebelum kegiatan masyarakat di bulan Juni dimulai," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads