Mayoritas Kalimantan Masih Musim Hujan

Nasional

Mayoritas Kalimantan Masih Musim Hujan

Nafilah Sri Sagita K - detikKalimantan
Selasa, 05 Mei 2026 13:30 WIB
Ilustrasi traveling saat musim hujan
Ilustrasi traveling saat musim hujan/Foto: Getty Images/sinceLF
Balikpapan -

Sejumlah wilayah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau di awal Mei 2026. Peralihan musim berlangsung bertahap dan diprediksi meluas hingga Agustus 2026.

Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih cepat dari biasanya. Bahkan, durasinya juga diperkirakan lebih panjang. Kondisi ini menjadi sinyal bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan cuaca sejak dini.

Sederet Wilayah dengan Kemarau Lebih Awal

Berdasarkan keterangan resmi BMKG per Senin (4/5/2026), sebagian besar wilayah Indonesia masih musim hujan. Meski begitu, beberapa daerah sudah lebih dulu mengalami peralihan ke musim kemarau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Sumatera, tanda-tanda kemarau mulai terlihat meski masih terbatas di sejumlah titik. Sementara itu, di Jawa, wilayah pesisir utara menjadi salah satu yang lebih dulu mengalami kemarau. Sebagian kecil Bali juga mulai mengering.

Untuk Nusa Tenggara Barat, kemarau baru terjadi di beberapa wilayah. Sedangkan Nusa Tenggara Timur sudah mengalami musim kemarau lebih luas, terutama di bagian selatan.

Namun Kalimantan masih didominasi musim hujan dan belum menunjukkan peralihan signifikan. Di Sulawesi, wilayah selatan termasuk pesisir mulai masuk musim kemarau. Kondisi serupa juga terpantau di sebagian Sulawesi Tenggara serta titik-titik tertentu di Sulawesi Tengah.

Sementara itu, di Maluku, wilayah bagian tengah hingga tenggara sudah cukup banyak mengalami kemarau, termasuk kawasan di sekitar Laut Banda. Untuk Papua, bagian selatan terutama wilayah pesisir tercatat mulai lebih dulu memasuki musim kemarau.

Prediksi Puncak Kemarau

BMKG menjelaskan kemarau yang datang lebih cepat dipengaruhi berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global berada pada fase netral dan berpotensi berkembang menuju El Nino pada pertengahan tahun.

Pemantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada di angka -0,28 atau kategori netral, dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Meski begitu, peluang munculnya El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini mencapai 50 hingga 60 persen.

Selain itu, peralihan angin dari Monsun Asia ke Monsun Australia juga menjadi penanda utama dimulainya musim kemarau di Indonesia.

BMKG memprediksi puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Sekitar 429 zona musim atau 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami periode puncak kekeringan pada bulan tersebut.

Artikel ini sebelumnya tayang di detikHealth dengan judul BMKG Beberkan Wilayah yang Mulai Masuk Musim Kemarau Awal Mei 2026.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads