Kesadaran ekologis ditunjukkan oleh nelayan tradisional di perairan Kalimantan Utara (Kaltara). Seorang nelayan asal Tarakan, Saripudin, tak sengaja mendapati seekor penyu hijau tersangkut di jaringnya saat melaut di sekitar perairan muara Bulungan.
Alih-alih dimanfaatkan, ia justru rela merobek jaringnya demi melepasliarkan kembali hewan dilindungi tersebut ke laut. Nelayan yang telah 40 tahun melaut ini menuturkan, penyu bagi masyarakat pesisir memiliki arti penting, yakni indikator perairan yang sehat, bebas limbah, dan kaya akan ikan.
"Apabila di suatu daerah tidak ada penyu, hasil tangkapan itu pasti sepi. Kalau banyak penyu, pasti laut itu tidak terkontaminasi limbah berbahaya. Tanda-tandanya kalau penyu muncul, pasti di bawah itu banyak ikan. Itulah petunjuk dari nenek moyang kami, jadi kami menjaga betul keberadaannya," ungkap Saripudin kepada detikKalimantan. Selasa (21/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, penyu berbobot antara belasan hingga puluhan kilogram kerap tak sengaja tersangkut di jaring nelayan. Untuk menyelamatkannya secara cepat, nelayan seringkali harus merelakan jaring mereka rusak atau dirobek, dengan taksiran kerugian material mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 180 ribu per jaring.
"Mau tidak mau jaring kami rusak. Lebih baik jaring rusak daripada hewan ini tidak selamat. Kalau kita dapat penyu, ya mau tidak mau kita ikhlaskan saja, kita robek bersihkan penyunya," terangnya.
Lebih lanjut, pria yang juga aktif di Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) ini membeberkan fakta menarik. Kaltara, khususnya di perairan Tarakan, ternyata memiliki habitat populasi penyu yang sangat besar.
Ia menyebut kawasan Gusung Menulun yang terletak di perairan depan Tarakan Timur sebagai lokasi berkumpul, kawin, dan berkembang biaknya penyu hijau. Selama ini, publik lebih banyak mengetahui Kepulauan Derawan di Berau sebagai habitat penyu, padahal Kaltara memiliki potensinya sendiri.
"Sebenarnya di Kaltara potensi penyu untuk pembesarannya ada di depan Tanjung Pasir, namanya Gusung Menulun. Kalau air jernih, kita bisa melihat bukan hanya puluhan, tapi ratusan penyu di sana," beber Saripudin.
Terkait temuan dan potensi ini, Saripudin berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) maupun dinas terkait di daerah. Ia mengusulkan adanya program kompensasi jaring bagi nelayan yang menyelamatkan penyu untuk merangsang kesadaran pelestarian laut yang lebih masif.
"Harapan kami ada perhatian dari pemerintah. Misalnya kompensasi sekadarnya jika jaring nelayan rusak, karena ada nelayan yang nakal juga. Selain itu, alangkah baiknya ada sistem penandaan (label) dari pemerintah untuk penyu yang dilepas, sehingga nelayan tahu bahwa penyu ini sudah didata dan diawasi," pungkasnya.
