Biografi Raden Ajeng Kartini, Pahlawan Emansipasi

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Selasa, 21 Apr 2026 09:00 WIB
Foto: Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0
Balikpapan -

Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan hak, khususnya bagi perempuan. Sosoknya menjadi simbol emansipasi karena keberaniannya menyuarakan gagasan tentang pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesempatan yang setara bagi kaum perempuan pada masa penjajahan.

Melalui pemikirannya yang progresif, Kartini berhasil menginspirasi perubahan pandangan masyarakat terhadap peran perempuan. Di tengah keterbatasan yang dihadapi perempuan pada zamannya, Kartini tetap gigih mencari ilmu dan memperluas wawasan.

Ia menuangkan ide-ide serta kegelisahannya melalui surat-surat yang kemudian dikenal luas dan menjadi bukti perjuangannya dalam memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pemikirannya tidak hanya relevan pada masa itu, tetapi juga terus menginspirasi hingga saat ini.

Biografi Raden Ajeng Kartini

Museum RA Kartini Foto: Museum RA Kartini

Raden Ajeng Kartini, yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Pahlawan Nasional Indonesia ini dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan kebebasan dan kedudukan kaumnya, khususnya perempuan Jawa pada masa itu.

Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa di masa Hindia Belanda. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai bupati. Ibunya bernama Ngasirah, seorang rakyat biasa. Karena tidak memiliki gelar bangsawan, ibunda Kartini berstatus sebagai istri selir, bukan istri utama.

Semasa kecil, Kartini dikenal sebagai putri yang lincah, cerdas, dan mandiri. Sampai-sampai mendapat julukan "Trinil," yaitu nama burung kecil yang lincah dan menarik.

RA Kartini masuk sekolah dasar eropa atau Europesche Lagere School (ELS) pada 1885. Anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan bersama anak-anak bangsa Eropa dan Belanda-Indo di ELS hanya anak pejabat tinggi pemerintah.

Dalam buku Pendidikan Feminis R.A. Kartini oleh Irma Nailul Muna disebut meskipun dari kalangan bangsawan, anak perempuan masuk sekolah dan keluar rumah merupakan langkah yang bertentangan dengan tradisi saat itu.

Pada masa tersebut perempuan Jawa tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan tinggi. Sekolah di ELS, Kartini belajar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Kemampuan bahasanya makin kuat karena rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda. Kartini juga belajar bercakap dengan bahasa Belanda sambil bermain dan menerima tamu bangsa Belanda yang datang ke Jepara.

Setelah menempuh pendidikan di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun Kartini dilarang ayahnya melanjutkan pendidikan di HBS Semarang.

Dikutip dari buku Kartini: Sebuah Biografi karya Sitisoemandari Soeroto, alur hidupnya berubah drastis saat ia lulus; sesuai adat istiadat Jawa bagi perempuan bangsawan masa itu, Kartini harus langsung menjalani masa pingitan.

Saat itu, tradisi bangsawan mewajibkan anak usia 12 tahun yang sudah dianggap dewasa untuk dipingit. Saat dipingit, anak perempuan tidak boleh keluar rumah, termasuk ke sekolah, karena harus menyiapkan diri untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Dikutip buku Getar-getar Jiwa Si Trinil dari Mayong-Jepara karya Suparman, Kartini menikmati masa sekolah sampai usia 12 tahun yang merupakan fase terindah dalam hidupnya. Kebebasannya semasa sekolah ia manfaatkan sebaik mungkin, kadang berjalan-jalan ke pantai atau sekadar mampir ke pengrajin ukiran kayu sebelum akhirnya dipingit.

Kartini yang dipingit mengesampingkan kekecewaannya tidak lanjut sekolah dengan membaca dan mencatat. Sejumlah catatannya termasuk pandangan hidup yang bisa dicontoh, jiwa dan pemikiran besar, dan perilaku yang baik.

Ia juga berkirim surat pada sahabatnya untuk mempelajari pemikiran baru dan menyampaikan keinginannya tentang dunia pendidikan di daerahnya. Terjemahan surat-surat Kartini kelak membuka bahwa dirinya punya berbagai gagasan untuk mengangkat derajat kaum perempuan bumiputera di dunia internasional lewat pendidikan.

Kendati tak melanjutkan pendidikan seperti harapan semula, sebelum wafat, Kartini mencoba berbagai langkah agar dirinya dan perempuan di sekitar bisa maju dengan pendidikan.



Simak Video "Video: Perjuangan di Ujung Canting Siti Laela"


(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork