Raden Ajeng Kartini adalah sosok wanita dari Jepara yang menjadi pejuang hak-hak perempuan. Dari surat-surat yang ia tulis, terkumpul jadi karya berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Saat itu aktivitas perempuan dibatasi. Namun Kartini berani memberontak, menyuarakan keluh kesahnya dalam surat-surat itu. Ia memperjuangkan kesetaraan yang akhirnya membuat banyak pemegang kekuasaan saat ini adalah perempuan.
10 Ide Lomba untuk Rayakan Hari Kartini di Kantor
Lomba Hari Kartini. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom) Foto: Rachman Haryanto |
Ada banyak cara untuk memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Bukan hanya dengan memeriahkan sosial media, tapi juga bisa diisi dengan berbagai kegiatan di lingkungan kerja, salah satunya dengan lomba-lomba yang seru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momen ini juga pas untuk mempererat bonding antar rekan kerja. Lomba-lomba ini pun bisa jadi sarana untuk mengenal dan merefleksikan kembali perjuangan Kartini. Berikut detikKalimantan berikan 10 ide lomba untuk merayakan Hari Kartini di kantor bersama rekan-rekan kerja:
1. Lomba Berkebaya atau Baju Daerah
Di sini karyawan diajak untuk menggunakan kebaya bagi perempuan, dan baju daerah bagi laki-laki. Mereka akan berlenggak seperti sedang tampil dalam fashion show. Penilaian bisa dari keindahan busana, kesesuaian tema, dan cara peserta tampil di atas karpet merah.
2. Lomba Cosplay Kartini
Peserta perempuan akan berdandan menyerupai Raden Ajeng Kartini, baik dari segi busana, gaya rambut, sampai ekspresi. Di sini bisa juga ditambahkan lomba baca surat-surat Kartini yang ada dalam karyanya atau membaca puisi tentang Kartini.
3. Lomba Cerdas Cermat Tema Sejarah dan Emansipasi Wanita
Lomba yang satu ini cocok untuk menguji wawasan karyawan tentang sejarah perjuangan perempuan, tokoh-tokoh penting, hingga isu kesetaraan gender yang sedang hangat saat ini. Formatnya bisa dibuat berkelompok supaya lebih seru dan kompetitif.
4. Lomba Tebak Lagu Tema Pahlawan atau Nasional
Peserta lebih baik digabungkan menjadi beberapa kelompok, kemudian diminta menebak judul lagu nasional atau lagu bertema perjuangan dari potongan lirik yang diputar. Selain menghibur, lomba ini juga pastinya membangkitkan semangat nasionalisme di lingkungan kerja.
5. Lomba Masak Pakai Daster untuk Lelaki
Ini salah satu lomba paling seru, tapi juga paling banyak yang harus disiapkan. Karyawan laki-laki akan berlomba membuat masakan yang paling istimewa. Tidak sampai situ saja, mereka juga harus menggunakan daster saat memasak! Kemudian hasil masakannya akan dicicipi oleh juri dari karyawan perempuan.
6. Lomba Make Up
Peserta membawa alat make up nya sendiri dan berlomba menjadi Make Up Artist terbaik. Temanya bisa disesuaikan, apakah ingin make up modern atau tradisional yang mirip Kartini.
7. Lomba Pidato Emansipasi Wanita
Para karyawan harus menyampaikan pidato singkat buatannya tentang emansipasi dan peran perempuan, kesetaraan gender, atau kisah perjuangan Kartini.
8. Lomba Hias Meja Tema Kartini
Di lomba ini, tim maupun perorangan diminta menghias meja kerja dengan nuansa Kartini, bisa berupa dekorasi bunga, kain batik, quotes-quotes bertema perjuangan perempuan, maupun dekorasi kreatif lain. Untuk menentukan juara bisa dinilai dari kreativitas.
9. Penghargaan Kartini of The Month/Year
Tidak ada salahnya memberikan penghargaan kepada perempuan yang berjasa. Pihak kantor dapat memberikan penghargaan kepada karyawan perempuan inspiratif yang menunjukkan dedikasi, kepemimpinan, atau kontribusinya, baik dalam sebulan atau setahun terakhir.
10. Kartini Challenge
Peserta membuat video pendek bertema emansipasi wanita di dunia kerja, lalu mengunggahnya ke media sosial, bisa TikTok atau Instagram. Penilaian bisa dilihat dari isi video berupa kreativitas, pesan yang disampai, dan engagement berupa likes.
Kisah Perjuangan RA Kartini dalam Emansipasi Wanita
RA Kartini Foto: Arsip Nasional RI |
Raden Ajeng Kartini atau yang biasa dilahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Bukan rakyat biasa, Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya adalah seorang bupati, sehingga Kartini punya kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, seperti yang dijelaskan dalam buku biografi berjudul R.A. Kartini Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia.
Namun, pada usia sekitar 12 tahun, ia harus menjalani tradisi pingitan, di mana perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah hingga menikah. Masa pingitan inilah yang justru membuka jalan bagi Kartini untuk berpikir kritis. Ia banyak membaca buku, surat kabar, dan majalah dari Eropa. Dari sanalah muncul kesadarannya tentang ketertinggalan perempuan pribumi dibanding perempuan Barat, terutama dalam hal pendidikan dan kebebasan berpikir.
Kartini kemudian aktif menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Dalam surat-surat tersebut, ia mengungkapkan kegelisahan, harapan, dan cita-citanya untuk memajukan perempuan Indonesia. Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan.
Setelah menikah dengan Bupati Rembang, Kartini tetap melanjutkan perjuangannya dengan mendirikan sekolah untuk perempuan. Sayangnya, ia wafat di usia muda, yaitu 25 tahun, tidak lama setelah melahirkan anak pertamanya.
Kumpulan surat Kartini kemudian dibukukan dengan judul terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini menjadi bukti perjuangan emansipasi wanita di Indonesia dan menginspirasi banyak generasi setelahnya sampai hari ini.
(aau/aau)


