Profil Anak Semata Wayang RA Kartini, RM Soesalit Djojoadhiningrat

Profil Anak Semata Wayang RA Kartini, RM Soesalit Djojoadhiningrat

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 18 Apr 2026 17:30 WIB
Masa Kecil Soesalit Djojoadhiningrat. (Dok. Museum Kartini Rembang)
Foto: Masa Kecil Soesalit Djojoadhiningrat. (Dok. Museum Kartini Rembang)
Samarinda -

RA Kartini, pejuang emansipasi wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 ini dikenal melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari balik masa pingitan, Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan, kesetaraan, serta kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang. Setahun kemudian, tepatnya pada 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang putra tunggal bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Empat hari setelah melahirkan, pada 17 September 1904, Kartini wafat di usia 25 tahun.

Sejak saat itu, Soesalit tumbuh tanpa kasih sayang ibu kandung. Nama yang disandangnya bahkan dianggap mencerminkan perjalanan hidupnya. Nama Soesalit berasal dari akronim bahasa Jawa "Susah Alit" yang berarti "susah sejak kecil".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama tersebut seolah menjadi gambaran hidupnya, karena sejak bayi ia sudah kehilangan sosok ibunda yang begitu dicintai bangsa Indonesia.

Meski lahir sebagai putra seorang pahlawan nasional, Soesalit tidak tumbuh di bawah sorotan kemewahan. Ia justru memilih jalan hidup yang berbeda dari ibunya. Jika Kartini berjuang dengan pena dan pemikiran, maka Soesalit berjuang lewat dunia militer dan pemerintahan.

Biodata Singkat RM Soesalit Djojoadhiningrat

Nama lengkap: Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat
Tempat lahir: Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Tanggal lahir: 13 September 1904
Orang tua: R.A. Kartini dan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat
Bidang karier: Militer dan pemerintahan
Wafat: 1962, pada usia 57 tahun
Tempat dimakamkan: Kompleks makam keluarga Djojoadhiningrat di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang

Masa Kecil Soesalit

Setelah ditinggal wafat oleh Kartini, Soesalit diasuh oleh neneknya, MA Ngasirah yang merupakan ibu kandung Kartini, serta oleh ayahnya. Soesalit tidak tumbuh sebagai anak yang manja, meskipun berasal dari keluarga bangsawan Jawa dan merupakan putra bupati.

Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, tenang, dan cenderung pendiam. Banyak orang menilai Soesalit mewarisi kecerdasan serta karakter intelektual ibunya, di samping jalan hidup yang dipilihnya sangat berbeda, seperti yang dijelaskan dalam buku Kumpulan Sejarah Lengkap Pahlawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah.

Pendidikan Soesalit

Soesalit memperoleh pendidikan yang cukup baik karena berasal dari keluarga ningrat dan pejabat pribumi. Ia pernah bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar khusus kalangan elite pribumi dan Eropa pada masa kolonial.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang, sekolah khusus untuk mencetak pamong-praja pribumi. Ada pula catatan yang menyebut Soesalit sempat menempuh pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) dan bahkan RHS (Rechtshoogschool) atau sekolah hukum di Batavia.

Lulus dari sekolah pamong-praja, Soesalit sempat bekerja sebagai pegawai negeri di wilayah Jawa Tengah. Namun, perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika Indonesia memasuki masa pendudukan Jepang.

Karier Militer Soesalit

Berbeda dari Kartini sebagai tokoh pendidikan dan emansipasi wanita, Soesalit justru memilih dunia militer. Pada masa pendudukan Jepang, ia mengikuti pendidikan militer dalam Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA).

Soesalit dididik selama tiga bulan di Boe Gyugun Rensentai Bogor dan berhasil menjadi Daidancho PETA. Pangkat Daidancho pada masa itu setara mayor atau letnan kolonel dengan jumlah bawahan mencapai ratusan orang.

Menurut catatan Harsya Bachtiar, Soesalit pernah menjadi Daidancho PETA Banyumas II di Sumpyuh, Banyumas, pada 1943 hingga 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Soesalit bersama bekas tentara PETA lainnya bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan akhirnya menjadi TNI.

Dalam buku Kartini: Sebuah Biografi karya Sitisoemandari Soeroto, disebutkan bahwa Soesalit pernah menjabat sebagai Komandan Brigade V Divisi II Cirebon hingga Oktober 1946.

Panglima Divisi Diponegoro

Karier militer Soesalit berkembang pesat. Ia dikenal dekat dengan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan dalam Kabinet Sjahrir.

Amir Sjarifuddin bahkan bersikeras ingin menjadikan Soesalit sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dengan wilayah operasi di sekitar Kedu dan Yogyakarta pada periode Oktober 1946 hingga Maret 1948. Namun, usulan itu sempat ditolak oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Jenderal Soedirman.

Pada akhirnya, Soesalit tetap dipercaya memimpin Divisi I Diponegoro yang merupakan gabungan Divisi II dan Divisi III pada Maret 1948.

Sebelum program Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Re-Ra), Soesalit memiliki pangkat Mayor Jenderal. Tapi setelah kebijakan tersebut diterapkan pada 1948, pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel.

Peran dalam Re-Ra dan Peristiwa Madiun 1948

Dalam program Re-Ra, Soesalit ditunjuk menjadi salah satu anggota Komisi Tiga Jenderal. Dalam komisi tersebut, Soesalit dianggap mewakili kalangan bekas PETA dan laskar.

Sementara itu, Mayor Jenderal Suwardi mewakili bekas KNIL dan Kolonel Abdul Haris Nasution mewakili perwira-perwira muda.

Sayangnya, nama Soesalit kemudian ikut terseret dalam dinamika politik pasca Peristiwa Madiun 1948. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh kiri seperti Amir Sjarifuddin membuatnya dicurigai. Sepupunya, Raden Mas Moedigdo yang merupakan Komisaris Polisi, bahkan dihukum mati karena dicap komunis.

Pada masa itu, Soesalit juga pernah menolong Soetanti, istri D.N. Aidit. Soetanti dibantu hingga dapat bersekolah ke luar negeri dan kemudian menjadi ahli pengobatan.

Karena itulah, Soesalit kemudian dikenai tahanan rumah oleh Gubernur Militer Bambang Sugeng. Presiden Soekarno disebut menjadi sosok yang menyelamatkan Soesalit dari hukuman yang lebih berat.

Setelah Peristiwa Madiun, Soesalit tidak lagi menjadi panglima tentara di Jawa. Ia dipindahkan ke Kementerian Pertahanan sebagai Perwira Staf Angkatan Darat.

Jabatan Setelah Dunia Militer

Meski tidak lagi menduduki posisi penting di militer, Soesalit masih dipercaya memegang sejumlah jabatan pemerintahan. Menurut media Belanda Dinsdag edisi 3 Januari 1950, Kolonel Soesalit Djojoadhiningrat diangkat sebagai Kepala Penerbangan Sipil.

Tetapi setelah 1950, jabatan-jabatan militer penting mulai banyak diisi oleh generasi yang lebih muda, seperti Gatot Subroto dan tokoh militer lain yang lahir pada era 1910-an.

Wafat dan Dimakamkan di Dekat Kartini

Soesalit meninggal dunia pada 17 Maret 1962 di usia 57 tahun. Sesuai keinginannya, Soesalit dimakamkan di kompleks makam keluarga Djojoadhiningrat di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Lokasi makamnya berada sangat dekat dengan makam ibundanya, R.A. Kartini.

Soesalit kini dikenang sebagai putra tunggal R.A. Kartini yang memilih jalan pengabdian yang berbeda. Jika ibunya berjuang lewat pemikiran dan tulisan, Soesalit mengabdikan hidupnya melalui dunia militer dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 



Hide Ads