Akses transportasi darat di jalur poros Sungai Boh menuju Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), akhirnya kembali dapat dilintasi warga sejak Senin (13/4). Namun status penanganannya masih darurat.
"Jalan poros Sungai Boh-Kayan Selatan sudah dapat dilalui sejak kemarin. Selasa (14/4/2026). Kondisinya lumayan dan sudah dapat digunakan oleh masyarakat sekitar untuk kegiatan perekonomian," jelas Briptu Rafinaldi kepada detikKalimantan, Rabu (15/4/2026).
Kini urat nadi perekonomian di kawasan perbatasan ini mulai berdenyut lagi, meski proses perbaikan permanen jembatan yang ambruk masih menghadapi tantangan berat akibat sulitnya medan pedalaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kaltara, Dani Wiranto, menyebutkan bahwa jembatan fungsional di kilometer 36 telah beroperasi sejak Senin (13/4). Ia menegaskan bahwa penanganan saat ini masih bersifat darurat.
"Benar, penanganan ini masih sebatas darurat. Nanti akan ada kegiatan rutin untuk menjaga kondisi jalan tetap fungsional," kata Dani.
Dani menceritakan, penanganan pasca-longsor di wilayah Apo Kayan ini sama sekali tidak mudah. Jauhnya lokasi dan minimnya infrastruktur pendukung membuat pihak BPJN harus memutar otak, terutama terkait mobilisasi alat berat.
"Untuk mempercepat evakuasi, BPJN harus berkolaborasi meminjam alat berat milik Pemerintah Daerah yang posisinya paling dekat dengan titik longsor," terangnya.
"Mobilisasi alat berat dilakukan dari Sungai Boh menuju lokasi jembatan dengan estimasi waktu tempuh 1 hingga 2 hari. Medan yang dilalui memang relatif datar, namun kecepatan pergerakan alat berat yang sangat terbatas menyebabkan waktu tempuh menjadi sangat lama," ungkap Dani.
Tantangan tidak berhenti pada urusan alat berat. Bahan baku utama untuk menyambung kembali urat nadi transportasi ini rupanya juga langka.
"Proses mengantarkan alat ke lokasi jembatan membutuhkan waktu ekstra, mulai dari persiapan operator, bahan bakar, hingga komponen jembatan. Pasca longsor, kami langsung bangun komunikasi dan diskusi dengan UPTD PU Kabupaten Malinau dan masyarakat sekitar terkait pengadaan kayu log. Material kayu log ini memang sangat sulit didapatkan di daerah tersebut," keluhnya.
Sebagai solusi jangka panjang, BPJN tengah memproses pengadaan paket pemeliharaan rutin yang ditargetkan mampu menjaga jalan dan jembatan tetap fungsional hingga akhir Tahun Anggaran 2026.
"BPJN Kaltara saat ini sedang dalam proses pengadaan paket pekerjaan pemeliharaan rutin jalan dan jembatan pada ruas tersebut. Paket pekerjaan ini direncanakan mencakup kegiatan pemeliharaan dan penanganan kerusakan secara berkelanjutan guna menjaga kondisi jalan dan jembatan tetap fungsional hingga akhir Tahun Anggaran 2026 Sembari menunggu perbaikan utama berjalan, petugas telah menyiapkan jalur sementara berupa perlintasan basah tepat di samping jembatan eksisting.
"Pekerjaan perbaikan akan dilaksanakan secepat mungkin. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraan saat melintas di lokasi pekerjaan," pesannya.
Diberitakan sebelumnya, akses transportasi beberapa kecamatan di perbatasan Kabupaten Malinau, Kaltara, sempat dilaporkan lumpuh total. Hal ini dipicu oleh ambruknya jembatan kayu penghubung utama di Kilometer 31, Kecamatan Sungai Boh, pada Rabu (8/4/2026) lalu.
Sakai, salah satu warga Sungai Boh, menuturkan bahwa jembatan setinggi kurang lebih 5-10 meter tersebut hancur tak tersisa usai wilayah itu diguyur hujan lebat semalaman.
"Kondisi jembatannya ambruk. Diduga disebabkan hujan lebat dari malam, dan faktor utamanya karena jembatan kayu log besar ini juga sudah sangat lama usianya," jelas Sakai kepada detikKalimantan, Rabu (8/4/2026).
