China Bikin Pulau Raksasa, Hasil Menimbun Pasir 12 Tahun

Internasional

China Bikin Pulau Raksasa, Hasil Menimbun Pasir 12 Tahun

Rachmatunnisa - detikKalimantan
Jumat, 10 Apr 2026 19:30 WIB
Ilustrasi pulau buatan
Ilustrasi pulau buatan/Foto: Damascus Bite
Balikpapan -

China menimbun pasir selama lebih dari satu dekade hingga membentuk pulau buatan raksasa. Proyek itu mengubah wilayah di Laut China Selatan yang dulunya hanya berupa karang dangkal, menjadi daratan luas dengan infrastruktur modern.

Proyek itu berlangsung selama kurang lebih 12 tahun. China secara masif memindahkan sedimen dari dasar laut ke permukaan. Hasilnya, area yang sebelumnya hampir tenggelam saat air pasang kini berubah menjadi pulau permanen.

Di citra satelit, perubahan itu terlihat jelas. Pulau-pulau baru kini dilengkapi berbagai fasilitas seperti landasan pacu, jalan, radar, hingga bangunan permanen. Kawasan yang dulunya hanya berupa lingkaran karang kini menjelma menjadi struktur beton dengan fungsi strategis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antara 2013 hingga 2016, China menciptakan lebih dari 1.200 hektare daratan baru di Kepulauan Spratly. Luas ini setara dengan sekitar 1.600 lapangan sepakbola.

Proses pembangunannya melibatkan kapal keruk raksasa yang menyedot pasir dari dasar laut, kemudian memompanya ke atas terumbu karang. Setelah itu, pasir diratakan dan dipadatkan menggunakan alat berat, lalu diperkuat dengan struktur batu dan beton agar tahan terhadap gelombang laut.

Usai fondasi terbentuk, pembangunan dilanjutkan dengan fasilitas pendukung seperti pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, hingga berbagai infrastruktur lainnya. Secara resmi, China menyebut pembangunan ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan sipil seperti navigasi dan keselamatan pelayaran.

Namun, berbagai laporan menunjukkan keberadaan fasilitas militer yang berdampingan dengan infrastruktur sipil. Seorang analis keamanan dari Manila menyoroti dampak dari proyek ini.

"Kami membangun pulau ini agar merasa lebih aman, tetapi setiap pulau juga terasa seperti pemicu baru," ujar analis keamanan dari Manila, Filipina, dikutip dari Damascus Bite.

Selain berdampak pada geopolitik, proyek ini juga menimbulkan kekhawatiran lingkungan. Reklamasi besar-besaran menyebabkan kerusakan terumbu karang, yang merupakan habitat penting bagi berbagai spesies laut.

Selain itu, aktivitas ini juga memengaruhi nelayan lokal yang kini harus menghindari wilayah yang sebelumnya menjadi area tangkap mereka. Pulau-pulau buatan tersebut kini berada di jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan dunia. Hal ini membuat proyek reklamasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga berkaitan erat dengan kekuatan ekonomi dan politik global.

Artikel ini sebelumnya tayang di detikInet dengan judul China Nimbun Pasir 12 Tahun, Ubah Laut Jadi Pulau Raksasa.




(sun/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads