Momen ibadah paskah turut mewarnai tradisi di Palangka Raya. Tradisi ini dikenal 'ziarah Paskah'.
Dari pantauan detikKalimantan, sejak Jumat Agung (3/4/2026) hingga hari ini, umat kristiani berbondong-berbondong ke pemakaman untuk mengunjungi sanak keluarga yang telah meninggal. Puncak ziarah Paskah diperkirakan hingga Sabtu malam.
Mereka biasanya membawa bunga dan lilin untuk diberikan diatas makam. Tradisi ini telah membawa dampak ekonomi bagi pengusaha bunga dan lilin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak pedagang menjajakan bunganya di sekitar Pemakaman Umum (TPU) Kristen Pal/K.M 2,5 dan 12 di Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Paskah membawa berkah buat para perajin bunga atau florist.
Stand Shang Florist di Palangka Raya. (Ayuningtias Puji Lestari) |
Seperti yang dirasakan Cici Lita, pemilik stand toko bunga 'Shang Florist'. Lita datang jauh-jauh dari Malang, Jawa Timur sampai berjualan bunga di Palangka Raya, memanfaatkan momen Hari Raya Paskah.
Lita menjual berbagai macam rangkaian bunga segar. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu per pot.
Nyatanya, cuan moncer datang dari tanah Borneo. Dalam beberapa hari, omzetnya mencapai puluhan juta!
"Aku sudah beberapa hari disini, dalam 3 hari kurang lebih omzetnya sudah mencapai hingga 10 Juta lah," ceritanya kepada detikKalimantan, Sabtu (4/4/2026).
Lita mengaku sudah bertahun-tahun jualan bunga segar di Palangka Raya, memanfaatkan momen Paskah. Diketahui, ia berjualan bunga bersama suami dan beberapa rekan kerjanya.
"Aku dan suami basis usahanya memang di Malang, tapi kami juga memperluas usaha di luar pulau Jawa. Untuk saat ini yang di luar pulau masih di Kalteng saja," tutur Lita.
Stand Shang Florist di Palangka Raya. (Ayuningtias Puji Lestari) |
Ia menceritakan alasannya berjualan hingga ke Palangka Raya. Ia mengikuti jejak sang suami yang sudah hampir satu dekade lebih dulu berjualan bunga segar di Palangka Raya.
Suami Lita biasa berjualan saat hari-hari besar, seperti Ibadah Paskah. Sepengalamannya, cuan jualan bunga di momen hari besar tak kalah menguntungkan meski harus menyeberang pulau.
"Kalau suami kurang lebih ada 8 tahun berjualan disini. Kami stay disini hanya saat momen-momen tertentu misalnya Paskah ini. Setelah itu kembali lagi ke Malang," kata Lita.
(aau/aau)


