Virus COVID-19 varian Cicada muncul di setidaknya 25 negara dan menimbulkan kekhawatiran. Namun, Kementerian Kesehatan RI menyatakan belum ada kasus penyebaran Cicada di Indonesia dan risikonya pun terbilang rendah.
Dilansir detikHealth, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman menyebut kasus di Indonesia didominasi oleh varian virus lain. Varian ini juga diklaim tidak memicu gejala berat.
"Varian dominan di Indonesia adalah XFG (57%), LF.7 (29%), XFG 3.4.3 (14%) dengan risiko rendah," tegasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (3/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aji menambahkan bahwa sejauh ini varian COVID-19 Cicada belum terbukti memicu penularan virus lebih cepat maupun perburukan gejala yang berisiko fatal. Risiko kesehatan dari Cicada juga disebut rendah berdasarkan standar WHO.
"Varian tersebut belum menunjukkan peningkatan sirkulasi, dan tidak ada data yang menunjukkan peningkatan keparahan, hospitalisasi, dan kematian. Menurut WHO, risiko kesehatan masyarakat untuk varian BA.3.2 (Cicada) adalah rendah," bebernya.
Aji meminta masyarakat untuk tidak panik. Sebagai pencegahan, Aji mengajak masyarakat untuk membiasakan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, memakai masker jika sakit atau di keramaian.
Baca selengkapnya di detikHealth.
