Heboh COVID-19 Varian Cicada, Gejalanya Lebih Berat?

Heboh COVID-19 Varian Cicada, Gejalanya Lebih Berat?

Averus Kautsar - detikKalimantan
Rabu, 01 Apr 2026 10:38 WIB
Warning about the scary COVID-19 virus. World pandemic with coronavirus COVID19. Wuhan city is a threat to humanity. Bacteria on a background of thunderclouds
Ilustrasi virus Corona/Foto: Getty Images/subjob
Balikpapan -

Penyebaran varian baru COVID-19 bernama BA.3.2 atau 'Cicada' mulai meningkat secara internasional sejak akhir tahun lalu. Seperti apa gejalanya?

Walau varian itu sudah terdeteksi sejak 2024, varian ini belakangan mulai menyumbang jumlah infeksi yang signifikan, mencapai 30 persen kasus COVID di beberapa negara Eropa Timur hingga sudah terdeteksi di 25 negara bagian Amerika Serikat.

Ahli mengatakan tingkat mutasi pada BA.3.2 membuatnya lebih mampu menghindari perlindungan dari vaksin maupun sistem kekebalan tubuh yang sudah terbentuk akibat infeksi COVID-19 sebelumnya. Hal ini berpotensi memicu lonjakan kasus kembali pada musim panas mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala Cicada pada dasarnya sangat mirip dengan varian lain. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan gejalanya meliputi:

  • Hidung berair atau tersumbat
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Nyeri otot atau pegal-pegal
  • Muntah
  • Diare
  • Perubahan pada indera penciuman atau perasa

Beberapa varian yang muncul belakangan juga dikaitkan dengan kondisi yang disebut 'razorblade throat', yaitu sakit tenggorokan yang terasa sangat perih.

"Saya belum melihat data yang menunjukkan bahwa varian Cicada lebih parah dibandingkan varian lain yang sedang beredar," kata Direktur Medis dari National Foundation for Infectious Diseases, Dr Robert H Hopkins Jr, dikutip detikHealth dari USA Today, Rabu (1/4/2026).

"Sakit tenggorokan yang berat dilaporkan sebagai gejala yang cukup umum, bersama dengan gejala khas COVID lainnya," sambungnya.

CDC mengungkapkan secara umum gejala COVID sangat sulit dibedakan dengan flu biasa tanpa tes. Namun, ada beberapa gejala yang sedikit sering lebih muncul pada masing-masing kondisi tersebut.

Misalnya, perubahan signifikan atau hilangnya kemampuan mencium bau atau mengecap rasa, terutama jika berlangsung lama tanpa penyebab jelas, lebih sering dikaitkan dengan COVID. Selain itu, sesak napas atau kesulitan bernapas juga lebih sering menjadi tanda COVID dibandingkan flu.

Infeksi COVID juga cenderung muncul sedikit lebih lama setelah paparan dibandingkan flu. Jika gejala flu biasanya muncul 1-4 hari setelah terpapar, gejala COVID bisa muncul dalam 2-5 hari, bahkan hingga 14 hari setelah terinfeksi.

Baca selengkapnya di sini.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads