Banjir dan tingginya tumpukan sedimen pasir yang kerap melumpuhkan Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, terus menjadi sorotan. Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Tarakan, Martinus Parewang, membenarkan adanya perbukitan yang gundul di area tersebut. Namun ia menegaskan lokasinya berada di luar kawasan hutan lindung.
"Kalau yang kami lihat di Kelurahan Karang Anyar itu memang lokasinya berbukit-bukit dan kita akui di situ sudah gundul, tapi itu di luar kawasan. Kalau di dalam kawasan (hutan lindung Gunung Selatan), saya rasa tidak ada lagi kegiatan penggundulan karena teman-teman rutin melakukan patroli," tegas Martinus kepada detikKalimantan, Kamis (2/4/2026).
Martinus tidak menampik hilangnya tutupan lahan menjadi pemicu utama longsornya material ke daerah aliran sungai. Ia menjelaskan, karakteristik tanah di Tarakan yang didominasi pasir memang sangat rentan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika pepohonan di perbukitan hilang, hujan deras akan langsung membawa material tanah turun ke jalan dan parit menjadi sedimen," paparnya.
Terkait sorotan mengenai aktivitas pembukaan jalan dari Gunung Selatan ke Kampung Bugis yang sebelumnya dinilai memicu erosi, Martinus menyebut aktivitas warga tersebut juga berada di luar patok batas kawasan hutan lindung, meski posisinya bersebelahan langsung.
"Jadi, sebagai langkah antisipasi dan edukasi, KPH Tarakan mendorong masyarakat serta perangkat RT/Kelurahan setempat untuk berkolaborasi melakukan reboisasi," urainya.
Martinus menyatakan pihaknya memiliki persemaian dan siap mendistribusikan bibit secara gratis bagi warga yang ingin menghijaukan kembali area rawan longsor.
"Silakan mengajukan bibit atau bermohon ke kami. Kita ada bibit buah-buahan, kayu-kayuan, dan bambu. Rekomendasi kami untuk perbukitan dan pinggiran sungai di Karang Anyar hingga Kampung Bugis itu sangat baik ditanami bambu atau tanaman tahunan seperti durian, rambutan, dan mangga. Selain akarnya kuat menahan tanah, itu juga memelihara sumber mata air," jelasnya.
Karena kawasan Kampung Bugis merupakan salah satu tangkapan sumber air baku PDAM Tarakan, menjaga kelestarian lingkungan di sana dinilai sangat krusial. Ia pun mengimbau masyarakat untuk berhenti melakukan penebangan liar dan tidak membuang sampah sembarangan.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor, Mustafa, mengungkap fakta bahwa tingginya sedimentasi dan banjir di Kelurahan Karang Anyar tidak lepas dari masifnya perambahan lahan oleh oknum warga.
Pepohonan yang dulunya menjadi resapan air dan pengikat tanah kini lenyap tak bersisa. Hal ini diperkuat dengan perbandingan data historis wilayah tersebut.
"Diambil semua tanah-tanah itu, bukit-bukit ini penuh dengan kondisi gundul. Bagaimana mau bertahan air? Kalau kita lihat citra satelit tahun 1980-an sampai 1990-an penuh dengan pohon, sekarang di 2026 ini semua gundul," ungkap Mustafa, Selasa (31/3/2026).
(sun/bai)
