Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor, Mustafa, mengungkap penyebab utama sulitnya menanggulangi banjir dan tingginya sedimentasi sungai di Kelurahan Karang Anyar (Kampung Bugis), Kota Tarakan.
Mustafa menegaskan kondisi perbukitan di sekitar lokasi sudah gundul akibat masifnya perambahan lahan oleh oknum warga. Pohon-pohon yang dulunya berfungsi sebagai resapan air sekaligus penahan tanah, kini sudah lenyap.
"Diambil semua tanah-tanah itu, bukit-bukit ini penuh dengan konservasi gundul. Bagaimana mau bertahan air? Kalau kita lihat citra satelit tahun 1980-an sampai 1990-an penuh dengan pohon, sekarang di 2026 ini semua gundul," ujar Mustafa, Selasa (31/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, karakter tanah di kawasan tersebut sangat berpasir. Tanpa adanya pepohonan atau semak sebagai penahan alami, hujan deras akan langsung menyapu material pasir dan tanah ke arah Sungai Karang Anyar.
"Jadi, hal ini memicu sedimentasi parah dan pendangkalan sungai secara cepat. Kala hujan turun, tidak ada yang menahan lagi. Datang air, semuanya mengalir langsung bersama lumpur dan pasir. Itulah yang turun menjadi sedimen," tegasnya.
Pihaknya menyebut jika hujan berdurasi setengah jam dengan intensitas 50 milimeter per detik, debit air bercampur lumpur tersebut dipastikan akan langsung meluap dan menggenangi permukiman warga karena kapasitas tampung sungai yang sudah kritis.
Normalisasi Sungai Terhalang Permukiman Padat
"Selain lahan hijau yang habis, kami juga menghadapi jalan buntu saat mencoba melakukan normalisasi fisik," bebernya.
Meski desain pengerukan dan pelebaran dari Dinas PUPR Kaltara sudah siap, eksekusi di lapangan terbentur oleh berdirinya rumah-rumah warga yang memakan area sempadan sungai.
"Antisipasi untuk lebarkan sungai tidak akan mungkin, karena kita harus bebaskan kiri-kanan. Sepanjang sungai itu penuh rumah semua. Alat berat butuh ruang minimal 5 meter untuk swing, di lokasi tidak bisa masuk karena sempit dan rumah berdempetan," papar Mustafa.
Upaya pendalaman dasar sungai juga ditolak karena sangat berisiko merusak fondasi rumah warga di bantaran. Sementara itu, usulan pembangunan embung baru untuk menampung air urung dilakukan akibat tidak adanya lagi lahan tersisa dan ketidakmampuan anggaran Pemerintah Kota untuk pembebasan lahan.
Saat ini, langkah mitigasi yang bisa berjalan hanya pembersihan sedimen manual secara berkala yang dibantu oleh alat berat milik PDAM setempat di area bendung mereka, guna menjaga ketersediaan air baku. BWS Kalimantan V mendesak adanya kolaborasi lintas sektor yang serius.
"Di situlah problem-nya, pemerintah dan DPRD harus berperan. Secara konservasi, merambah dan menebang pohon di bukit itu tidak bisa dibenarkan. Masyarakat juga harus diedukasi agar berhenti membuang sampah maupun limbah batang pohon ke aliran sungai," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, saat hujan mengguyur, warga RT 18 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat harus bertarung dengan banjir lumpur. Namun saat matahari terik, napas mereka sesak oleh debu pasir yang menyelimuti permukiman.
Kondisi itu dirasakan betul oleh Pakde Oi (62), warga asli Kampung Bugis yang telah menetap sejak lahir tahun 1964. Ia menuturkan, wilayahnya kini menjadi 'langganan' banjir yang membawa material sedimen pasir dari wilayah hulu.
"Kalau hujan, kami kebanjiran lumpur setinggi paha. Begitu surut, pasirnya ketinggalan sampai satu jengkal. Nah, kalau sudah kering begini, gantian debunya yang masuk rumah. Kita seperti 'makan' debu setiap hari kalau tidak disiram," ujar Pakde Oi kepada detikKalimantan, Sabtu (28/3/2026).
Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
