Akses jalan penghubung Malinau menuju Krayan, Kalimantan Utara (Kaltara), bakal dialihkan rutenya (alih trase). Hal ini disebabkan adanya potensi genangan di sejumlah titik jalan akibat pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTA Mentarang.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kaltara, Dani Wiranto, menjelaskan bahwa keputusan alih trase ini muncul setelah adanya pembahasan bersama pihak PT Kayan Hydropower Nusantara (PT KHN).
"Berdasarkan hasil pembahasan dengan PT KHN, terdapat potensi alih trase akibat genangan pada beberapa segmen jalan terdampak PSN PLTA Mentarang," ujar Dani kepada detikKalimantan, Kamis (2/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu titik krusial yang dipastikan terdampak adalah jalur yang menuju Desa Semamu. Saat ini, pihak pengelola PLTA tengah melakukan survei untuk mencari jalur alternatif yang tepat.
"PT KHN akan melakukan kajian terkait alih trase ruas jalan terdampak yang saat ini masih dalam proses survei trase pengganti. Rute baru dan jaraknya belum bisa diperkirakan karena masih proses survei," lanjutnya.
Disinggung mengenai potensi kerugian negara karena jalur lama yang sudah dibangun menggunakan APBN harus ditinggalkan, Dani menyebut akan ada mekanisme penghapusan atau penggantian aset. Selama ini, APBN digunakan untuk pembangunan jembatan darurat (Bailey) dan pemeliharaan rutin.
"Akan dilakukan pembahasan terhadap penggantian atau penghapusan aset sesuai ketentuan yang berlaku," ucap Dani.
Kabar pengalihan rute ini menjadi sorotan lantaran akses Malinau-Krayan merupakan urat nadi logistik bagi pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Long Midang. Sebelumnya, Plt Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Yance Tambaru, menyebut pembangunan PLBN tersebut terhambat karena material bangunan tidak bisa masuk.
"Alasan krusial mengapa fisik bangunan tak kunjung berdiri bukan pada sengketa lahan, melainkan akses transportasi material. Terkunci akses jalan Malinau-Long Bawan," ungkap Yance Pada Senin (16/2/2026).
Yance pun sempat mengkhawatirkan dampak bendungan di Malinau yang bisa menenggelamkan ruas jalan menuju Krayan dan memperlambat progres PLBN yang masuk dalam proyek carry over prioritas era Presiden Prabowo Subianto tersebut.
(aau/aau)
