Bagi warga RT 18 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, cuaca ekstrem seakan menjadi siklus penderitaan. Saat hujan mengguyur, mereka harus bertarung dengan banjir lumpur, namun saat matahari terik, napas mereka sesak oleh debu pasir yang menyelimuti permukiman.
Kondisi memprihatinkan ini dirasakan betul oleh Pakde Oi (62), warga asli Kampung Bugis yang telah menetap sejak lahir tahun 1964. Ia menuturkan, wilayahnya kini menjadi 'langganan' banjir yang membawa material sedimen pasir dari wilayah hulu.
"Kalau hujan, kami kebanjiran lumpur setinggi paha. Begitu surut, pasirnya ketinggalan sampai satu jengkal. Nah, kalau sudah kering begini, gantian debunya yang masuk rumah. Kita seperti 'makan' debu setiap hari kalau tidak disiram," ujar Pakde Oi kepada detikKalimantan, Sabtu (28/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang akrab disapa Ran Fals ini mengenang masa mudanya di tahun 1970-an hingga 1980-an, saat sungai di dekat rumahnya masih jernih dan dalam. Dulu, sungai tersebut menjadi tempat bermain dan mandi warga tanpa takut terjebak lumpur.
"Dulu sungainya dalam, mau lompat salto dari jembatan pun bisa. Sekarang? Selangkah saja sudah sampai ke dasar karena dangkal sekali. Dulu banyak pohon bambu di pinggir sungai yang menahan tanah, sekarang habis semua ditebang untuk bangunan warga yang maju ke badan sungai," keluhnya.
Menurutnya, sedimentasi parah mulai terjadi pasca tahun 1990-an akibat masifnya pembangunan di wilayah dataran tinggi seperti Gunung Selatan dan Pasir Putih.
"Air yang mengalir dari atas membawa material pasir karena berkurangnya daerah resapan di wilayah hulu," tuturnya.
Sebagai warga yang puluhan tahun terdampak, Pakde Oi meminta pemerintah kota tidak hanya menutup mata atau sekadar menyalahkan sampah warga. Ia menawarkan tiga solusi konkret hasil pengamatannya selama bertahun-tahun.
"Pertama, pengerukan sedimen pasir secara berkala. Kedua, penyiringan atau penguatan tebing sungai agar tidak terus menyempit. Ketiga, yang paling krusial, adalah pembangunan 'umbung' atau kolam retensi.
"Saya lihat di Persemaian itu dulu banjir terus, tapi setelah ada Umbung PDAM, air lari ke sana. Di Karang Anyar ini ada lahan kosong di belakang Balai Desa Terengginas, kenapa tidak dibuatkan Umbung? Itu bisa membantu cadangan air PDAM juga," cetusnya.
Jeritan warga ini selaras dengan analisis teknis dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan. Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Chaizir Zain, mengungkapkan bahwa sedimentasi pasir di jalanan Karang Anyar dipicu oleh kerusakan ekologis di wilayah atas.
"Erosi intensif terjadi di lahan terbuka dan hutan yang terdegradasi di dataran tinggi saat hujan lebat. Material pasir ini terbawa ke hilir," jelas Chaizir.
Selain erosi, Chaizir menyoroti alih fungsi lahan yang mengurangi daerah resapan air, sehingga air hujan langsung mengikis tanah tanpa ada vegetasi yang menahan.
"Semakin diperparah dengan saluran drainase yang sudah dangkal, membuat air meluap ke jalanan membawa muatan sedimen yang tebal," pungkasnya.
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
