Sungai Surut, Tarif Mudik-Balik dengan Perahu di Katingan-Kotim Membengkak

Sungai Surut, Tarif Mudik-Balik dengan Perahu di Katingan-Kotim Membengkak

Ayuningtias Puji Lestari - detikKalimantan
Kamis, 26 Mar 2026 13:04 WIB
Perairan di Katingan menuju Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami pendangkalan atau surut. Kondisi ini terjadi selama arus mudik-balik Lebaran 2026.
Perairan di Katingan menuju Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng)/Foto: Ayuningtias Puji Lestari/detikKalimantan
Katingan -

Perairan di Katingan menuju Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami pendangkalan atau surut. Kondisi ini terjadi selama arus mudik-balik Lebaran 2026.

Akibatnya, ongkos taksi perahu naik. Sebab saat kondisi sungai surut, taksi perahu sulit melaju dengan muatan penuh. Akibatnya, para penumpang dialihkan ke perahu yang lebih kecil. Aktivitas ini dikenal dengan istilah (me-langsir).

Dengan begitu, penumpang harus membayar dua kali biaya transportasi. Saat hari biasa, ongkos taksi perahu umumnya mulai dari Rp 150 ribu per orang. Jika me-langsir, tarifnya sekitar Rp 115 ribu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun tarif tersebut belum termasuk biaya langsir yang dikenakan mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu per orang. Tarif tergantung tingkat kesulitan di medan.

Diperkirakan saat kondisi surut, penumpang taksi perahu arah Katingan - Sampit harus menanggung biaya hampir Rp 200 ribu. Heru, sopir taksi perahu mengatakan momen me-langsir kali ini mulai terjadi saat mendekati Lebaran. Selain itu, kondisi ini juga biasa terjadi saat memasuki musim kemarau.

"Waktu dekat lebaran kemarin udah langsir," ujar Heru kepada detikKalimantan, Kamis (26/3/2026).

Anis (24) pekerja di Kota Sampit, Kotim yang berasal dari Katingan juga mengalami lansir. Ia balik dari Katingan ke Sampit.

Menurutnya, saat memasuki Sungai Hantipan di wilayah Kotim sering pas surut. Bahkan ia pernah ikut mendorong perahu. Anis mengungkapkan biaya arus baliknya kali ini mencapai Rp 185 ribu.

"Ini masih belum terlalu parah. Kalau sudah tidak ada hujan sama sekali nanti lumpur di bawah keliatan semua," pungkas Anis.



(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads