Pelabuhan Sebawang KTT Habis Dikeluhkan Penumpang Feri

Pelabuhan Sebawang KTT Habis Dikeluhkan Penumpang Feri

Oktavian Balang - detikKalimantan
Rabu, 25 Mar 2026 19:30 WIB
Pelabuhan Sebawang KTT yang tergenang 
air sungai
Pelabuhan Sebawang KTT yang tergenang air sungai/Foto: Oktavian Balang
Tana Tidung -

Ketiadaan fasilitas jembatan hidrolik (moveable bridge) di Pelabuhan Feri Sebawang, Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara, menuai keluhan dari para pengguna jasa. Di momen arus balik Lebaran, para penumpang dan sopir angkutan barang harus rela menunggu berjam-jam menyesuaikan pasang surut air sungai untuk bisa turun dari kapal.

Anto Soto, seorang sopir pembawa muatan alat kesehatan asal Balikpapan, menyoroti minimnya fasilitas tersebut. Ia menilai pelabuhan penyeberangan seharusnya sudah dilengkapi jembatan hidrolik agar proses bongkar muat tidak bergantung pada alam.

"Di Balikpapan itu sudah ada jembatan hidrolik. Jadi kalau kapal sudah sandar di dermaga, penumpang langsung turun tanpa harus menunggu berjam-jam hanya karena menunggu air surut," kata Anto kepada detikKalimantan, Rabu (25/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senada dengan Anto, Atcoh Atcang, warga Sesayap Hulu yang hendak kembali ke Tarakan, juga mengeluhkan hal yang sama. Ia menyebut Pelabuhan Sebawang dan Tarakan memiliki kendala serupa terkait jembatan hidrolik.

"Kalau di Sebawang, saya harus menunggu turunnya semua kendaraan agar bisa dapat tempat favorit dan beristirahat. Mungkin ada dua jam lebih menunggu air sungai surut," beber Atcoh.

Kondisi ini tidak hanya menyita waktu, tetapi juga mengancam keselamatan. Saat debit air Sungai Sesayap naik, warga terpaksa menerjang genangan air setinggi mata kaki orang dewasa di atas jalan dermaga.

"Kalau pengendara motor yang lihai, kemungkinan jatuh di atas air itu nol persen, mungkin hanya buat sepatu basah. Khawatirnya jika pengendara itu perempuan, remaja, atau orang tua, kemungkinan jatuh di genangan air itu pasti ada," tambahnya.

Tak hanya urusan sandar kapal, fasilitas di darat pun tak luput dari sorotan. Ananda Pratiwi, salah satu penumpang, mengeluhkan kondisi ruang tunggu yang terkesan seadanya dan membuat tidak nyaman.

"Tahu kan kondisi Kalimantan kalau siang hari, terik dan menyengat rasanya. Kasihan anak-anak kecil yang tidak nyaman dengan kondisi tersebut," tutur Ananda.

Fasilitas buang air juga menjadi catatan kritis. Menurutnya, Pelabuhan Sebawang bukan hanya urat nadi bagi warga Kaltara, melainkan juga pengguna jasa lintas provinsi, termasuk dari Sulawesi dan Jawa.

"Toiletnya ya darurat. Saya terkadang sedih mendengar cerita perbandingan pelabuhan feri di daerah lain yang kerap disampaikan driver lintas provinsi. Ingat, Pelabuhan Sebawang tak hanya dinikmati warga Kaltara, melainkan daerah luar juga," tegasnya.

Merespons keluhan masyarakat, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Tana Tidung, Arief Prasetiawan, mengakui kondisi infrastruktur Pelabuhan Sebawang saat ini sangat riskan untuk keselamatan. Berbeda dengan Pelabuhan Feri Tarakan yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Pelabuhan Sebawang saat ini masih mengandalkan plengsengan kayu dan timbunan material.

"Idealnya (dibangun) hal sama juga dengan Sebawang, mengingat data produksi pengguna pelabuhan tersebut tidak hanya masyarakat Kaltara, bahkan ada dari Jawa dan Sulawesi. Pelabuhan Sebawang ini menjadi penghubung antara Pulau Kalimantan dan Kota Tarakan," jelas Arief.

Arief menegaskan, Pemkab Tana Tidung tidak tinggal diam dan telah berupaya menyuarakan hal ini ke Pemprov Kaltara hingga ke Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kemenhub di Tanjung Selor. Itu sebagai wujud komitmen.

"Pemkab KTT bahkan telah menggelontorkan APBD untuk tahap awal, yang meliputi studi kelayakan, Penyusunan dokumen DLKR (Daerah Lingkungan Kerja) dan DLKP (Daerah Lingkungan Kepentingan, Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan (RIP)," bebernya.

Selain itu, meliputi alih status kawasan dan sertifikasi lahan (dalam proses), perawatan jalan pelabuhan, pembangunan pos petugas dan fasilitas pendukung dan pemenuhan jaringan listrik.

"Harapan kami Dishub Provinsi dan Kemenhub bisa sesegera mungkin memberikan perhatian agar bisa dilaksanakan pembangunan pelabuhan yang representatif. Mengingat keselamatan masyarakat menjadi yang utama, dan multiplier effect-nya sangat berpengaruh pada pelaku ekonomi di Tana Tidung," tutup Arief.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik] (sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads