Pasir sisa banjir di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, dikeluhkan warga dan pengguna jalan. Tumpukan pasir yang tak kunjung dibersihkan memicu debu pekat saat cuaca panas dan becek saat turun hujan.
Pantauan detikKalimantan di lokasi, pasir tebal membentang hingga ratusan meter, dari arah Kampung Bugis menuju kawasan Pasir Putih. Pasir tersebut memenuhi bahu jalan dan beterbangan tertiup angin sehingga mengganggu pandangan pengguna jalan.
Roman, salah seorang warga sekitar, mengaku sangat kerepotan dengan kondisi ini. Menurutnya, tumpukan pasir tebal selalu menjadi langganan pascabanjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita warga sekitar repot dibuatnya. Tiap banjir, pasir itu menumpuk tebal di halaman rumah. Kalau cuaca panas debunya beterbangan. Kasihan pengguna motor, mereka hirup debu. Kalau helm tidak pakai kaca, mata pasti perih terkena partikel debu," ungkap Roman kepada detikKalimantan, Rabu (18/3/2026).
Dampak buruk ini juga dirasakan oleh Septi, seorang karyawati yang rutin melintasi jalur tersebut. Selama dua minggu terakhir, ia terpaksa mengambil rute memutar yang lebih jauh demi menghindari paparan debu yang memicu alerginya.
"Jalur terdekat ke kantor itu dari jalan Kampung Bugis, tapi karena berdebu saya terpaksa menghindar. Dampaknya saya kejauhan ke kantor. Di simpangan juga banyak pasir, saya sebagai pengendara perempuan takut lewat situ karena pasir bisa bikin ban selip," keluh Septi.
Ketua RT 26 Kelurahan Karang Anyar, Muhadi, membeberkan bahwa tumpukan pasir ini bermuara dari buruknya sistem drainase di kawasan tersebut. Ia menyoroti ketiadaan parit di area samping Gang Damiri hingga depan kafe setempat, yang membuat air limpasan beserta lumpur mengalir deras ke jalan raya.
"Harusnya dibuatkan parit yang arah rumah Kris, tapi tidak dibikin sehingga air larinya ke jalan. Ditambah lagi parit di depan kafe ditutup. Karena tanahnya tinggi, air mengalir semua ke daerah rendah (depan King)," jelas Muhadi.
Ia menambahkan, meski sebagian jalan sudah sempat ditinggikan, ketiadaan saluran air di sisi kiri dan kanan akan membuat perbaikan menjadi sia-sia.
"Biar dibaiki, akan tetap rusak jalanan itu kalau air masih tertampung di sana," tegasnya.
Menanggapi rentetan keluhan warga dan buruknya drainase, Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Karang Anyar, Mashuri, membenarkan bahwa kondisi tersebut adalah dampak dari banjir. Untuk masalah saluran air, pihaknya mengklaim sudah berkoordinasi dengan dinas terkait.
"Untuk normalisasi parit, kami rutin bersurat ke DPUPR Kota Tarakan agar dilakukan pembersihan dan pendalaman parit, dan ditindaklanjuti tim mereka," kata Mashuri melalui pesan singkat.
Sementara itu, untuk penanganan debu pasir di jalanan, warga tampaknya masih harus bersabar menghirup debu hingga hari raya berlalu. Mashuri menyebut intensitas bantuan penyemprotan jalan dari tim Koordinator Relawan Pemadam Kebakaran (Korlakar) sedang dikurangi.
"Kalau debu, biasa kami dibantu Korlakar. Tapi mungkin karena ini bulan puasa, mereka kurangi kegiatan. Mungkin pembersihan dilakukan setelah Lebaran, atas pertimbangan rekan-rekan masih menjalankan ibadah puasa saat ini," pungkasnya.
