Bolehkah Puasa Jika Masih Junub tapi Sudah Azan Subuh

Langkah Emas Raih Kemenangan

Bolehkah Puasa Jika Masih Junub tapi Sudah Azan Subuh

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 08 Mar 2026 05:00 WIB
Ilustrasi mandi
Ilustrasi mandi wajib. Foto: Freepik/Dmytro Sheremeta
Balikpapan -

Pernahkah detikers terbangun di penghujung waktu sahur dalam keadaan junub dan merasa bimbang harus berbuat apa? Sebagian orang bingung memilih apakah harus mandi wajib dulu atau bersahur dulu.

Dalam situasi ini, orang mungkin khawatir puasanya tidak diterima jika belum mandi junub dan sudah masuk waktu Subuh. Lantas bagaimanakah seharusnya?B olehkah lanjut berpuasa jika azan Subuh sudah berkumandang sementara kita belum mandi wajib?

Hal ini adalah salah satu topik fikih puasa yang paling sering ditanyakan setiap tahunnya. Simak bagaimana tuntunan agama terkait kondisi seperti tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi yang Disebut Junub

Dijelaskan dalam buku Fiqih Niat oleh Umar Sulaiman Asyqar, yang disebut junub adalah keadaan yang menjadi salah satu penyebab seseorang dilarang seseorang melakukan sholat sampai orang tersebut suci.

Allah SWT telah memerintahkan untuk mandi junub, apabila hambanya telah melakukan hubungan suami istri atau setelah keluarnya mani (jima') dari alat kelamin. Ini termasuk ketika dua alat kelamin bertemu meski tanpa ada keluar mani maupun keluar mani tanpa berhubungan intim.

Kondisi junub dapat disucikan dengan cara mandi junub. Kecuali dalam keadaan sulit air, kita diperbolehkan tayamum.

Bolehkah Puasa Jika Mandi Junub Setelah Sahur?

Seperti dijelaskan pengertian di atas, mandi junub pada dasarnya berkaitan dengan sholat. Jika kondisi junub sejak malam hari atau mimpi basah di siang hari, tidak membatalkan puasa, namun dilarang sholat sampai keadaannya suci.

Dikutip dari situs Kementerian Agama Bali, para ulama mengatakan orang yang junub di waktu malam di bulan Ramadhan boleh mandi wajib/junub setelah fajar atau setelah waktu Subuh tiba. Puasanya tetap dinilai sah.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Al Zuhaili membahas hal ini. Beliau mengatakan:

"Barangsiapa di waktu Subuh masih junub atau perempuan haid yang sudah suci sebelum fajar, kemudian keduanya tidak mandi kecuali setelah fajar, maka puasa pada hari itu sudah mencukupi bagi keduanya."

Hal ini juga didasarkan pada perbuatan Rasulullah SAW yang pernah menunda mandi junub hingga Subuh kemudian berpuasa. Dalam riwayat Sayyidah Aisyah dan Ummi Salamah RA:

"Sesungguhnya Nabi Saw pernah ketika waktu Subuh dalam keadaan junub dari jimak, kemudian beliau mandi dan berpuasa. Hadis diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dan Imam Muslim menambahi dalam hadis yang bersumber dari Ummi Salamah: 'Dan Nabi Saw tidak mengqada puasanya'."

Hukum Makan dan Minum Sebelum Mandi Wajib

Meski boleh menunda mandi hingga waktu Subuh, tetap ada ketentuan sebaiknya dilakukan seseorang ketika dalam kondisi junub. Salah satunya tentang hukum makan, minum, dan tidur dalam kondisi junub.

Dilansir dari NU Online, dalam kitab Fathul Mu'in dijelaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibaru bahwa:

ووآوؑ Ω„Ω†ΩˆΩ… ΩˆΨ£ΩƒΩ„ وشرب ΩˆΩŠΩƒΨ±Ω‡ فعل شيؑ Ω…Ω† Ψ°Ω„Ωƒ Ψ¨Ω„Ψ§ وآوؑ

Artinya: "Disunnahkan bagi orang junub, haid, dan nifas, setelah darahnya terputus untuk membasuh kemaluannya dan berwudhu jika ingin tidur, makan, dan minum. Dan dimakruhkan melakukan hal tersebut tanpa wudhu."

Dari penjelasan tersebut, ulama menyebut seseorang yang junub tetap disunnahkan untuk membersihkan kemaluannya dan berwudhu terlebih dahulu. Demikian pula di bulan Ramadhan, makan sahur dianggap makruh dalam kondisi junub jika belum membersihkan kemaluan dan berwudhu.

Pendapat lainnya dari Sayyid Abu Bakar Syata dalam I'anatut Thalibin, bahwa orang junub cukup membasuh kemaluannya saja dan tidak perlu berwudhu.

ΨΈΨ§Ω‡Ψ±Ω‡ Ψ£Ω†Ω‡ ΩŠΩƒΨ±Ω‡ Ψ°Ω„Ωƒ ΩˆΩ„Ωˆ Ω…ΨΉ ΨΊΨ³Ω„ Ψ§Ω„ΩΨ±Ψ¬ΨŒ ΩˆΩ„ΩŠΨ³ ΩƒΨ°Ω„ΩƒΨŒ Ψ¨Ω„ ΩŠΩƒΩΩŠ ΨΊΨ³Ω„ الفرج في Ψ­Ψ΅ΩˆΩ„ Ψ£Ψ΅Ω„ Ψ§Ω„Ψ³Ω†Ψ©ΨŒ ΩƒΩ…Ψ§ في Ψ§Ω„Ψͺحفة ΩˆΩ†Ψ΅Ω‡Ψ§: ΩˆΩŠΨ­Ψ΅Ω„ Ψ£Ψ΅Ω„ Ψ§Ω„Ψ³Ω†Ψ© Ψ¨ΨΊΨ³Ω„ الفرج Ψ₯Ω† Ψ£Ψ±Ψ§Ψ― Ω†Ψ­Ωˆ Ψ¬Ω…Ψ§ΨΉ أو Ω†ΩˆΩ… أو Ψ£ΩƒΩ„ أو شرب، وΨ₯Ω„Ψ§ ΩƒΨ±Ω‡

Artinya, "Lahiriah teks fathul mu'in mengatakan dimakruhkan tidur, makan, dan minum sebelum wudhu, walaupun kemaluannya sudah dibasuh. Tapi Hukumnya bukan seperti itu. Untuk menghasilkan kesunahan cukup dengan membasuh kemaluan, seperti disebut dalam kitab Tuhfah, "Dan pokok kesunahan dapat dihasilkan dengan membasuh kemaluan jika ingin kembali jima', tidur, atau makan dan minum. Jika tidak membasuh kemaluannya maka hukumnya makruh.

Tata Cara Mandi Junub

Berikut tata cara mandi junub yang dilansir dari situs Kementerian Agama:

Rukun Mandi Wajib

Ada dua rukun utama mandi wajib, yaitu berniat dan mengguyur air ke seluruh tubuh.

1. Niat

Niat mandi junub atau mandi wajib dibaca dalam hati bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh. Mazhab Syafi'i menekankan bacaan niat ini sebagai rukun utama yang tidak boleh ditinggalkan.

2. Mengguyur seluruh tubuh

Air harus mengenai seluruh bagian luar tubuh, termasuk rambut dan bulu-bulu. Untuk bagian tubuh yang berambut atau berbulu, air harus bisa mengalir hingga ke kulit dan pangkal rambut agar tidak ada najis yang tertinggal.

Sunnah Mandi Wajib

Meski dengan rukun di atas sudah dianggap sah, ada sejumlah sunnah yang bisa diterapkan, sehingga membuat mandi junub lebih berpahala. Berikut sunnah mandi wajib berdasarkan kitab BidΓ’yatul HidΓ’yah oleh Imam al-Ghazali:

  1. Membasuh tangan tiga kali.
  2. Membersihkan kemaluan dan segala kotoran atau najis yang masih menempel di badan.
  3. Berwudhu dengan sempurna.
  4. Mengguyur kepala sampai tiga kali, bersamaan dengan itu melakukan niat menghilangkan hadats besar.
  5. Mengguyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan badan sebelah kiri juga tiga kali.
  6. Menggosok-gosok tubuh, depan maupun belakang, sebanyak tiga kali.
  7. Menyela-nyela rambut dan jenggot (bila punya).
  8. Mengalirkan air ke lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut. Hindari menyentuh kemaluan. Jika tersentuh, maka berwudhu lagi.

Demikian penjelasan mengenai hukum puasa ketika kondisi junub pada saat masuk waktu Subuh, lengkap dengan tata caranya. Wallahu a'lam.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads