Media sosial dihebohkan dengan unggahan bernada ancaman terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Unggahan tersebut berisi peringatan agar masyarakat tidak memposting persoalan MBG di media sosial.
Dalam tangkapan layar yang beredar, tertulis kalimat bernada intimidatif yang menyebut jika ada pihak yang "menjatuhkan" menu MBG, maka penerima manfaat-terutama kategori 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui) tidak akan lagi menerima bantuan. Unggahan itu sempat memicu keresahan warga karena dinilai mengancam hak penerima manfaat.
Kepala Program MBG Region Kalbar Agus Kurniawi membenarkan adanya unggahan tersebut. Namun, ia menegaskan postingan ancaman itu bukan dibuat oleh relawan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah kami koordinasi dengan petugas di Kuala Mandor B, yang pertama kali membuat story di media sosial itu adalah kader posyandu. Kemudian dibagikan ulang oleh relawan dapur MBG," ujar Agus kepada detikKalimantan, Kamis (5/3/2026).
Dalam unggahan yang viral, disebutkan bahwa jika diketahui siapa yang memviralkan persoalan menu MBG, khususnya penerima manfaat 3B, maka tidak akan lagi menerima bantuan MBG. Agus memastikan, pihaknya telah mengetahui siapa yang membuat postingan ancaman tersebut. Yang bersangkutan juga telah dipanggil ke kantor kecamatan untuk dimintai klarifikasi.
"Sudah diketahui siapa yang membuat postingan itu dan hari ini dipanggil ke kecamatan untuk dilakukan pembinaan," katanya.
Agus menegaskan program MBG tetap berjalan sesuai ketentuan dan tidak ada kebijakan mencabut bantuan hanya karena penerima menyampaikan keluhan. Pihaknya akan memperkuat koordinasi dan pembinaan terhadap seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
"Penerima manfaat tetap memiliki hak. Tidak boleh ada intimidasi atau ancaman seperti itu. Kalau ada persoalan di lapangan, silakan disampaikan melalui jalur yang benar," ujarnya.
Untuk diketahui, sebelumnya ada unggahan di media sosial yang memprotes kondisi kulit buah jeruk yang sudah rusak. Kritikan warga ini kemudian dibalas dengan ancaman oleh kader posyandu setempat, lalu diikuti oleh relawan SPPG.
(des/des)
