Nasib Warga di 21 Desa Perbatasan RI-Malaysia, Hidup Tanpa Listrik dan Sinyal

Nasib Warga di 21 Desa Perbatasan RI-Malaysia, Hidup Tanpa Listrik dan Sinyal

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 26 Feb 2026 13:36 WIB
Suasana Desa Long Bulu.
Suasana Desa Long Bulu. Foto: (Istimewa)
Nunukan -

Sebanyak 21 desa di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), hingga kini belum teraliri listrik dan tidak memiliki akses sinyal telekomunikasi. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini masih terisolasi karena belum adanya akses jalan darat antar-desa.

Keterbatasan sulitnya akses listrik dan sinyal ini dikeluhkan warga Desa Long Bulu. Salah satunya pemuda Desa Long Bulu, Mastaryo, mengatakan ketiadaan fasilitas ini berdampak langsung pada sektor pendidikan, administrasi desa, dan kesehatan.

"Kalau malam, aktivitas memang sangat terbatas. Kami tidak punya akses perpustakaan digital atau internet. Anak-anak sulit mengikuti perkembangan di luar," ucap Mastaryo kepada detikKalimantan, Kamis (26/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat malam hari, masyarakat setempat hanya mengandalkan lilin atau lampu minyak. Adapun genset hanya dimiliki oleh segelintir keluarga yang mampu membeli bahan bakar.

Pada sektor kesehatan, peralatan medis di fasilitas kesehatan dasar yang membutuhkan daya listrik tidak dapat difungsikan.

Sementara itu, administrasi dan tata kelola desa masih dikerjakan secara manual. Koordinasi perangkat desa ke tingkat kecamatan harus dilakukan dengan menitipkan pesan kepada warga yang bepergian menggunakan perahu ke desa lain yang memiliki sinyal.

Suasana Desa Long Bulu.Suasana Desa Long Bulu. Foto: (Istimewa)

Diketahui Desa Long Bulu sebenarnya sempat terjangkau jaringan komunikasi Telkomsel Bakti pada 2021. Namun, jaringan tersebut tidak lagi aktif sejak akhir 2024.

"Kami berharap sinyal Telkomsel Bakti bisa diaktifkan kembali. Harapan utama kami listrik dan sinyal bisa segera masuk dan stabil," harap Mastaryo.

Plt Camat Lumbis Ogong, Musa, membenarkan kondisi terisolasi di wilayahnya. Dari total 26 desa di wilayahnya, mayoritas belum mendapatkan fasilitas dasar tersebut.

Suasana Desa Long Bulu.Suasana Desa Long Bulu. Foto: (Istimewa)

"Betul. Dari 26 desa, 21 desa di Kecamatan Lumbis Ogong belum menikmati listrik. Tiga desa dilayani oleh PLN, itu pun hanya 12 jam," kata Musa.

Musa menjelaskan, ada dua desa di kelompok Sukamaju yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun, kapasitasnya sangat terbatas. PLTS tersebut hanya mampu digunakan untuk penerangan rumah dan mengisi daya ponsel.

"Ketiadaan akses jalan darat menjadi kendala utama lambatnya pembangunan infrastruktur listrik dan telekomunikasi. Mobilitas warga selama ini sepenuhnya bergantung pada jalur sungai," ucap dia.

Pemerintah melalui Dinas ESDM Provinsi Kaltara, menurut Musa sudah mengetahui kondisi tersebut. Pemprov Kaltara disebut sempat meninjau Desa Linsayung pada Oktober 2025.

"Rencananya tahun ini, 1 desa di Lumbis Ogong akan dapat bantuan PLTS. Harapan saya semoga jalan darat segera dibangun untuk memudahkan akses," ujar Musa.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads