Keluh Warga Long Pujungan, Tak Sanggup Lagi Bertahan 3 Tahun Tanpa Sinyal

Kalimantan Utara

Keluh Warga Long Pujungan, Tak Sanggup Lagi Bertahan 3 Tahun Tanpa Sinyal

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 23 Jan 2026 07:01 WIB
Tower BTS di Long Pujungan. (Istimewa)
Foto: Tower BTS di Long Pujungan. (Istimewa)
Malinau -

Warga Desa Long Pujungan, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, mengaku sudah hampir tiga tahun hidup tanpa sinyal seluler. Yansui Sukuy, salah satu warga Long Pujungan, mengungkapkan bahwa infrastruktur penunjang seperti menara, genset, hingga panel surya sebenarnya tersedia.

Di desa itu telah berdiri kokoh sebuah menara Base Transceiver Station (BTS). Meski begitu, warga merasa menara tersebut tak lebih dari sekadar 'pajangan', sebab sinyal operator tak kunjung aktif.

"Tower ada, genset baru ada, solarnya ada. Tapi sinyal tidak ada. Ini sudah hampir tiga tahun tidak memancarkan sinyal lagi," ujar Yansui kepada detikKalimantan, Rabu (21/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menceritakan, teknisi sempat beberapa kali datang untuk melakukan perbaikan. Namun, perbaikan itu hanya bersifat sementara.

"Begitu teknisi naik, sinyal ada. Dua tiga hari teknisi turun, sinyal hilang lagi," tambahnya.

Yansui membandingkan desanya dengan desa-desa kecil lainnya yang justru memiliki akses komunikasi lebih baik. Padahal, kebutuhan komunikasi warga sangat mendesak, terutama untuk menghubungi anak-anak mereka yang bersekolah di luar daerah.

Akibat matinya jaringan seluler, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk mengakses internet. Mereka kini bergantung pada layanan internet satelit Starlink milik perorangan dengan sistem berbayar.

"Semenjak Telkomsel tidak berfungsi, masyarakat lari ke Starlink. Itu berbayar, ada yang Rp 5 ribu per jam," tutur Yansui.

Tak sampai di situ, pasokan listrik warga rupanya juga mengalami gangguan. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menjadi tumpuan utama desa, dilaporkan rusak sejak tujuh bulan terakhir. Hal ini membuat akses komunikasi semakin sulit karena perangkat Starlink pun butuh listrik.

"PLTA rusak, PLTS rusak, genset rusak. Jadi lumpuhlah semua komunikasi kami, kecuali warga yang punya genset sendiri untuk hidupkan Starlink," tambahnya.

Warga mengaku sudah sering melaporkan hal ini melalui Musrenbang hingga mengadu ke anggota dewan, namun belum ada solusi permanen.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malinau, Francis, membenarkan adanya kendala jaringan di Long Pujungan. Ia menjelaskan adanya pembagian tanggung jawab aset di lokasi tersebut.

Francis menegaskan bahwa menara (tower) adalah milik Pemerintah Daerah (Pemda), namun perangkat aktif BTS dan jaringan adalah tanggung jawab operator seluler.

"Memang ada tower milik Pemda yang kerja sama dengan Telkomsel. Informasi yang kami terima, ada kerusakan pada BTS. Nah, BTS ini tanggung jawab Telkomsel. Kalau sisi Pemda, kami menyiapkan towernya," ucap Francis pada detikKalimantan, Kamis (22/1/2026).

Francis mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak operator. Kerusakan disebut telah dimonitor dan sedang menyusun jadwal untuk perbaikan ke lokasi.

Ia pun meminta masyarakat Long Pujungan untuk sedikit bersabar menunggu tim teknis turun ke lapangan.

"Mereka (Telkomsel) sudah tahu dan sedang mengatur jadwal ke sana untuk perbaikan. Ada komunikasi dengan kita," ungkapnya.

"Kita harap bersabar, karena pihak Telkomsel sesuai keinginan mereka juga akan berupaya melakukan perbaikan itu," tambah Francis.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads