Bulan suci Ramadhan menjadi momen bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, termasuk pula berbagi ilmu. Salah satunya ialah melalui ceramah singkat atau yang sering disebut kuliah tujuh menit (kultum).
Kultum bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan, misalnya selepas sholat Subuh, Zuhur, maupun sebelum atau sesudah Tarawih. Meski singkat dan padat, kultum sering kali menjadi pengingat dalam melakukan kebaikan.
Bagi detikers yang berkesempatan menjadi penceramah, berikut ini 10 kultum Ramadhan dengan berbagai tema yang dapat disampaikan dalam berbagai acara, mulai dari menyambut bulan suci, keajaiban sedekah, hingga menggapai Lailatul Qadar.
1. Tema: Bekal Utama Menyambut Ramadhan
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wash-shalatu was-salamu 'ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.
Hadirin jamaah rahimakumullah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan di tahun 2026 ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Ramadhan adalah tamu agung. Layaknya menyambut tamu penting, kita tidak bisa menyambutnya dengan tangan kosong. Setidaknya ada tiga bekal utama yang harus kita siapkan agar Ramadhan kali ini tidak berlalu sia-sia:
Bekal Ruhiyah (Spiritual): Yaitu membersihkan hati dari penyakit batin seperti iri, dengki, dan sombong. Hati yang bersih akan lebih mudah menerima hidayah dan menikmati manisnya ibadah (tilawah, tarawih, qiyamul lail).
Bekal Ilmiyah (Ilmu): Kita wajib tahu mana yang membatalkan puasa, mana yang mengurangi pahala puasa, dan sunnah-sunnah apa saja yang bisa menghadirkan pahala berlipat ganda. Beribadah tanpa ilmu bagaikan berjalan di kegelapan.
Bekal Jasadiyah (Fisik): Puasa membutuhkan fisik yang prima. Menjaga pola makan saat sahur dan berbuka, serta tidak balas dendam saat adzan Maghrib berkumandang, adalah kunci agar kita tidak malas shalat Tarawih.
Semoga kita bisa mengoptimalkan ketiga bekal ini. Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik sepanjang hidup kita, karena kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita masih bisa menemuinya.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2. Tema: Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi faradhash shiyama 'alal mu'minin. Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Amma ba'du.
Kaum muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah, puasa adalah rukun Islam yang melatih kesabaran dan ketakwaan. Namun yang menjadi pertanyaan, sudah di level manakah puasa kita?
Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Mari kita renungkan, di posisi manakah kita saat ini:
Puasa Awam (puasanya orang kebanyakan): Ini adalah tingkatan paling dasar. Seseorang hanya menahan perut dari lapar dan minum, serta menahan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, lisannya masih berbohong, matanya masih melihat maksiat.
Puasa Khawas (puasanya orang khusus): Di level ini, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa.
Puasa Khawasul Khawas (puasanya super khusus): Ini adalah level para Nabi dan Wali Allah. Mereka menahan hatinya dari memikirkan keduniawian dan dari memikirkan selain Allah. Hati mereka 100% fokus kepada Allah.
Rasulullah SAW memperingatkan kita agar tidak terjebak di level paling bawah:
"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar dan haus." (HR. Ahmad).
Mari kita upgrade level puasa kita tahun ini. Jangan puas hanya menjadi orang awam yang sekadar 'pindah jam makan', tapi berusahalah menahan seluruh panca indera dari maksiat.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
(bai/des)