Pesawat BBM AT-802 Sudah Jalani Perawatan Rutin, Penyebab Jatuh Diselidiki

Round Up

Pesawat BBM AT-802 Sudah Jalani Perawatan Rutin, Penyebab Jatuh Diselidiki

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 20 Feb 2026 09:32 WIB
Pesawat Pelita Air Pengangkut BBM Satu Harga
Pesawat Pelita Air Pengangkut BBM Satu Harga.Foto: Dok. Pertamina
Nunukan -

Pesawat jenis Air Tractor AT-802 jatuh di wilayah Pa'bettung, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (19/2). Pesawat kargo pengangkut bahan bakar minyak (BBM) itu diketahui sudah jalani perawatan rutin beberapa hari sebelum insiden kecelakaan.

Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menjelaskan kronologi kecelakaan pesawat yang terjadi di kawasan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Insiden ini menewaskan pilot bernama Capt. Hendrick Lodewyck Adam.

Pesawat yang dimaksud adalah Air Tractor AT-802 registrasi PK-PAA tahun pembuatan 2013, nomor seri 802-0494, yang dioperasikan oleh Pelita Air. Pesawat ini khusus untuk pengangkutan BBM ke daerah terpencil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan mengimbau semua pihak untuk menunggu informasi resmi yang terverifikasi," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).

Secara kronologis, pesawat berangkat dari Bandar Udara Long Bawan pada pukul 04.10 UTC (12.10 WITA) menuju Bandar Udara Tarakan dengan membawa muatan BBM Pertamina dengan estimasi waktu kedatangan di Tarakan pada pukul 05.15 UTC (13.15 WITA).

Pilot menyampaikan kepada petugas ATC Tarakan waktu perkiraan pesawat menuju Abeam Malinau pada pukul 04.24 UTC (12.24 WITA), namun pada pukul 04.20 UTC (12.20 WITA), diterima sinyal darurat Emergency Locator Transmitter (ELT) dari pesawat tersebut.

"Sinyal darurat menyala pukul 12.20 Wita," ucap Lukman.

Pesawat tersebut terbang tanpa penumpang dan hanya diisi oleh satu orang kru, yakni pilot. Kemenhub mengonfirmasi bahwa pilot tidak selamat dalam insiden ini.

"Informasi terakhir yang kami peroleh pada pukul 15.16 Wita, pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia," ungkap Lukman.

Penyebab jatuhnya pesawat buatan tahun 2013 ini masih menjadi tanda tanya. Pasalnya, Kemenhub mencatat armada tersebut dalam kondisi laik terbang dan baru saja merampungkan pemeliharaan berkala delapan hari yang lalu.

"Dari sisi kelaikudaraan, pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Total pemeriksaan jam terbang pesawat mencapai 3.303 jam," terangnya.

Saat ini, penyebab pasti jatuhnya pesawat masih dalam tahap penyelidikan. Ditjen Hubud tengah berkoordinasi secara intensif dengan operator, otoritas bandara, dan tim di lapangan.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan dengan baik. Proses investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku oleh instansi berwenang," kata Lukman.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads