Ngerinya Efek Konsumsi Ikan Tercemar Pestisida Bagi Kesehatan

Jabodetabek

Ngerinya Efek Konsumsi Ikan Tercemar Pestisida Bagi Kesehatan

Tim detikHealth - detikKalimantan
Jumat, 13 Feb 2026 11:31 WIB
Puluhan ikan ditemukan mati mengapung di Sungai Cisadane, Tangerang, Rabu (11/2/2026). Pencemaran diduga berasal dari limpasan air bekas kebakaran gudang pabrik awal pekan ini.
Puluhan ikan ditemukan mati mengapung di Sungai Cisadane, Tangerang, Rabu (11/2/2026). Pencemaran diduga berasal dari limpasan air bekas kebakaran gudang pabrik awal pekan ini. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Balikpapan -

Kebakaran pabrik PT Biotek Saranatama di kawasan pergudangan Serpong, Kota Tangerang Selatan menghanguskan 20 ton pestisida. Zat kimia tersebut kemudian mencemari Sungai Cisadane hingga sepanjang 22,5 km.

Pestisida yang terbakar adalah jenis sipermetrin dan profenofos, yang umum digunakan untuk mengendalikan berbagai hama tanaman. Akibat pencemaran, kini kondisi aliran kali mengalami perubahan warna dan berbau. Ikan yang berada dalam aliran kali itu mengambang mati akibat terpapar cairan pestisida dari lokasi gudang penyimpanan yang kebakaran.

Insiden tersebut memicu alarm waspada bagi kesehatan masyarakat. Meski efeknya mungkin tidak langsung terasa seperti keracunan akut, paparan bahan kimia ini dalam jangka panjang menyimpan risiko kesehatan yang fatal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pestisida dikenal sebagai senyawa yang sulit terurai secara alami. Ketika masuk ke dalam aliran sungai dan terkonsumsi atau terpapar ke kulit manusia secara terus-menerus, zat tersebut akan terakumulasi dalam jaringan lemak dan organ tubuh.

"Kalau risiko jangka panjang zat kimia ini salah satunya menimbulkan kanker, kalau masuk ke lambung jadi kanker usus," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi, dikutip dari detikHealth.

Sementara itu disadur dari laman EPA United States, dampak pestisida terhadap kesehatan bergantung pada jenis pestisidanya. Beberapa seperti organofosfat dan karbamat dapat memengaruhi sistem saraf.

Jenis lainnya, dapat mengiritasi kulit atau mata. Beberapa pestisida mungkin bersifat karsinogenik. Lainnya dapat memengaruhi sistem hormon atau endokrin dalam tubuh. Selain itu, berikut adalah risiko kesehatan serius yang mengintai:

1. Kerusakan Saraf dan Risiko Parkinson

Paparan pestisida kronis berkaitan erat dengan kondisi neurotoksisitas. Sebuah studi meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Nature: npj Parkinson's Disease (2025) dan Environment International menunjukkan bahwa paparan pestisida seperti paraquat dan organofosfat dapat menyebabkan perubahan epigenetik pada otak.

Hal ini meningkatkan risiko penyakit Parkinson hingga 1,64 kali lipat karena zat kimia tersebut mengganggu fungsi neurotransmiter dan merusak sel saraf secara bertahap.

2. Gangguan Hormon dan Kesuburan

Pestisida sering kali berperan sebagai pengganggu endokrin. Jurnal International Journal of Molecular Sciences (MDPI) mencatat bahwa pestisida mampu meniru atau menghalangi hormon alami manusia.

Pada Pria: Paparan ini dapat menurunkan kualitas dan pergerakan sperma secara signifikan, yang berujung pada infertilitas.

Pada Wanita: Mengganggu siklus hormon reproduksi dan meningkatkan risiko keguguran spontan.

3. Risiko Kanker (Karsinogenik)

Paparan bahan kimia pertanian dan industri dalam jangka panjang telah lama dikaitkan dengan mutasi sel. Riset dalam jurnal American Journal of Epidemiology dan Frontiers in Public Health menemukan adanya korelasi kuat antara akumulasi pestisida di tubuh dengan peningkatan risiko Limfoma Non-Hodgkin dan Leukemia.

Organisasi Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) bahkan mengklasifikasikan beberapa zat dalam pestisida sebagai zat yang berpotensi karsinogenik (pemicu kanker) bagi manusia.

4. Gangguan Fungsi Hati dan Ginjal

Sebagai organ penyaring racun, hati dan ginjal adalah organ yang paling terbebani. Sebuah studi kohort dalam jurnal PLOS ONE mengungkapkan bahwa paparan pestisida jangka panjang berkaitan dengan abnormalitas pada tes fungsi hati dan penurunan laju filtrasi ginjal, yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis.

Menurut keterangan KLH, pencemaran ini meliputi wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Dampak yang teridentifikasi antara lain kematian berbagai biota akuatik, seperti ikan mas, ikan baung, ikan patin, ikan nila, dan ikan sapu-sapu. Kini KLH/BPLH (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup) tengah mendalami kasus.

"Kami akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah. Untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup," kata Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq dalam keterangan yang diterima detikcom, Kamis (12/2/2026).

KLH bakal mengambil sampel air di bagian hulu dan hilir Sungai Cisadane, serta mengumpulkan sepuluh sampel ikan mati untuk diuji di laboratorium. Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan terhadap air Sungai Jaletreng, air tanah, serta biota perairan lainnya dengan melibatkan ahli toksikologi.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads