Sri Darningsih (58) hanya bisa pasrah setelah rumahnya nyaris roboh karena peristiwa tanah gerak. Musibah ini melanda kampungnya di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang.
Dikutip dari detikJateng, Sri dan warga lainnya selalu khawatir setiap hujan turun. Rumah yang kemarin masih berdiri bahkan kini dirobohkan sebelum ambruk karena tanah gerak.
Warga bergotong royong membongkar rumah dan balai RT. Mereka memindahkan material bangunan ke lokasi yang dinilai aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak tanah gerak di kampung tersebut kian meluas. Jalur Jangli-Undip yang sebelumnya sudah putus kini amblesnya semakin lebar, menyisakan lubang besar di bawahnya. Tanah dan batu berserakan, sementara bagian bawah cor beton tampak menggantung tanpa penopang.
"Kalau sudah mendung, bunyi geluduk kayak gini atine (perasaannya) langsung ora (tidak) tenang. Nggak bisa ngapa-ngapain kalau tanahnya gerak lagi, cuma pasrah," cerita Sri, Rabu (11/2/2026).
Ia mengaku sudah sejak Rabu (4/2) lalu menginap di rumah kerabatnya di Mranggen, Kabupaten Demak. Namun, setiap siang ia selalu pulang ke rumahnya untuk melakukan evakuasi dan mengawasi rumahnya yang nyaris roboh.
"Saya di Mranggen terus karena dampak dari tanah yang bergerak. Kita ketakutan, tanahnya semakin lebar, semakin dalam. Kita sudah tidak berani masuk rumah," kata Sri yang berada di pengungsian itu.
Kondisi rumah Sri tampak retakan sudah terlihat dari pelatarannya. Terparah, retakan kurang lebih 20 sentimeter menganga di ruang tamunya yang gelap itu.
"Paku-paku itu semua lepas dari kayunya, terpisah dan rumah juga sudah ndoyong (miring). Jadi sama sekali tidak bisa ditempati. Mungkin hari ini dibongkar, untuk menyelamatkan materialnya," ujarnya.
Ia menyebut sudah mengevakuasi televisi, kompor, dan baju miliknya. Sementara rak-rak yang ada di dalam rumah sudah ia ikhlaskan dan dibiarkan tetap di tempatnya.
"Kita tidak punya barang berharga, yang penting kita ambil baju yang tiap hari dipakai karena kita membutuhkan. Paling nanti kita pakai terpal untuk menyelamatkan kursi atau lemari yang masih ada karena belum sempat keluarin," kata Sri.
"Geraknya itu tiap malam 1 jam sekali bahkan kadang 15 menit sekali bunyi, semakin keras semakin nyata retaknya. Tanah itu selalu bunyi dug-dug-dug. Kayak air berjalan. Jadi kita takut," lanjutnya.
Sementara warga terdampak lainnya, Slamet Riyadi (47), tengah merobohkan rumahnya dan mengamankan triplek, kayu, serta material yang bisa diselamatkan. Sudah tiga hari ini ia mengungsi di musala setempat.
Setiap awan kelabu muncul di langit, Slamet mengaku langsung waswas. Takut hujan lebat kembali mengguyur kawasan tersebut dan tanah kembali bergerak.
"2 bulan yang lalu itu sudah kelihatan jalan putus. Terus berlanjut, sampai kayak gini. Kalau tidur di musala pun waswas, nggak bisa tidur," ungkapnya.
Ia menceritakan, dulunya lahan tempat tinggalnya itu merupakan lapangan tembak dan warga yang bertani di kawasan itu diperbolehkan menempati tanah dengan menyetorkan hasil panen.
"Jadi warga yang bertani diperbolehkan di sini. Tapi setiap panen memang ada setoran ke TNI AD. Keluarga saya sudah di sini sejak 1961. Ini warga KTP Semarang semua, dulunya cuma beberapa orang, sekarang ini saudara semua. Turun-temurun tinggal di sini," paparnya.
Hingga kini warga pun berharap ada relokasi dari pemerintah maupun bantuan material untuk membangun kembali rumah terdampak.
"Kita cuma minta direlokasi, kalau bisa masih di tanah TNI AD aja yang aman, itu sudah cukup atau dicarikan solusi lain, wong kita lahir di sini, saya sudah 47 tahun di sini. Apalagi orang tua saya," harapnya.
(aau/aau)
