Balai Adat Kecamatan Peso yang menjadi simbol kebersamaan masyarakat di hulu Sungai Kayan kini tinggal kenangan. Sebab, bangunan itu ludes terbakar pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 17.00 Wita.
Camat Peso, Joni Kuleh, mengungkapkan rasa sedihnya atas musibah yang menghanguskan bangunan yang berdiri sejak 2001 tersebut. Menurutnya, balai adat itu bukan sekadar gedung, melainkan hasil gotong royong 15 desa yang ada di wilayah itu.
"Kenangannya sangat banyak. Giatan apapun di situ, baik sosial, budaya, agama, politik, hingga pemerintahan selalu di sana. Itu dibangun tahun 2001 atas partisipasi masyarakat, ada yang sumbang bahan bangunan, ada juga bantuan pengusaha dan pemerintah," ujar Joni kepada detikKalimantan, Selasa (3/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, warga dibantu pihak kecamatan tengah melakukan pembersihan sisa-sisa kebakaran. Namun, Joni menyebut kendala utama ada pada tiang-tiang kayu raksasa yang masih tertancap di lokasi.
"Sudah dibersihkan, tapi tiang-tiang besar itu belum bisa dicabut karena harus pakai alat berat. Kalau dibilang 99 persen habis, ya memang tinggal tiang-tiang itu saja yang tidak terbakar habis, tapi ukiran-ukirannya sudah hilang," jelasnya.
Pihak kecamatan telah beraudiensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Bulungan terkait penanganan ini. Hasilnya, sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah Peso diminta membantu menyediakan alat berat dan BBM untuk mencabut tiang serta melakukan pengurukan lahan.
"Kabar baik bagi warga Peso. Pemkab Bulungan telah menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali balai adat tersebut," bebernya.
Tahap perencanaan dilakukan tahun ini, sementara fisik bangunan akan dikerjakan pada tahun depan. "Pak Bupati dan Pak Wakil sudah katakan, pemerintah siap bangun. Mungkin tahun ini perencanaan, tahun 2027 baru bisa dibangun kembali," ungkapnya.
Meski kemungkinan menggunakan material modern seperti beton, Joni menegaskan arsitektur dan ciri khas rumah adat tetap akan dipertahankan sesuai aspirasi masyarakat dan lembaga adat.
"Kita minta masukan dari masyarakat supaya tidak lepas dari harapan mereka. Walaupun nanti modern atau beton, ciri khasnya harus tetap ada. Namanya juga balai adat," tambahnya.
Kehilangan balai adat menjadi pukulan telak bagi warga setempat. Joni mengenang bagaimana dahulu bangunan itu didirikan dengan tenaga manual sebagai simbol kebersamaan suku-suku yang ada di Kecamatan Peso, seperti Suku Dayak Kenyah dan Kayan.
"Waktu kejadian, semua sangat sedih. Saya juga sedih karena saya asal-usul dari situ. Kita tahu bagaimana orang dulu membangunnya dengan luar biasa. Harapan saya kepada warga, kita tidak bisa salahkan siapa-siapa karena ini musibah. Kita berharap akan ada pembangunan yang lebih baik lagi," tutup Joni.
Pada barita Sebelumnya, kebakaran menghanguskan balai adat beserta tiga unit rumah warga di desa Long Peso, Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 17.00 Wita.
"Kebakaran itu ada 3 rumah dan 1 balai adat. Dari 3 rumah itu, 1 rumah kosong," ujar Joni waktu itu.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
