WhatsApp merupakan platform bertukar pesan yang paling populer di dunia. Namun menurut Elon Musk dan Bos Telegram Pavel Durov, WhatsApp tak aman.
Awalnya, CEO Telegram itu menuliskan pendapatnya di X, media sosial milik Elon Musk. Ia mengaku menemukan celah keamanan.
"Anda pasti bodoh jika percaya WhatsApp aman di tahun 2026. Ketika kami menganalisis bagaimana WhatsApp menerapkan 'enkripsi'-nya, kami menemukan beberapa celah keamanan," tulis Durov.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui unggahan tersebut, Durov mengutip analisis internal Telegram yang mengungkapkan 'celah keamanan' tidak spesifik dalam implementasi enkripsi WhatsApp, meskipun belum ada detail publik yang muncul. Kemudian pemilik SpaceX dan Tesla ikut mengkritik WhatsApp milik Meta. Ia membagikan unggahan di X dengan kalimat frontal.
"WhatsApp tidak aman. Bahkan signal pun dipertanyakan. Gunakan X Chat," ujar Musk menanggapi unggahan DogeDesigner yang mengutip laporan Bloomberg tentang gugatan terhadap Meta.
Kepala WhatsApp, Will Cathcart tak tinggal diam. Ia menggunakan X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter) untuk membagikan tanggapannya terhadap tuduhan tersebut.
"Ini sama sekali tidak benar. WhatsApp tidak dapat membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel Anda dan kami tidak memiliki akses ke sana. Ini adalah gugatan tanpa dasar, hanya untuk mencari sensasi, yang diajukan oleh firma yang sama yang membela NSO setelah perangkat lunak mata-mata mereka menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah," ungkapnya.
Gugatan Terhadap WhatsApp
Dikutip detikInet dari Times of India, Jumat (30/1/2026), sekelompok penggugat internasional mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik AS untuk California Utara. Gugatan ini menantang pemasaran fitur E2EE oleh Meta, sebuah standar keamanan yang diklaim perusahaan melindungi pesan di aplikasi dan memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca pesan.
Gugatan tersebut mengklaim bahwa klaim privasi Meta adalah salah karena perusahaan WhatsApp 'menyimpan, menganalisis, dan dapat mengakses hampir semua komunikasi 'pribadi' pengguna WhatsApp'. Para penggugat mewakili pengguna dari India, Brasil, Australia, Meksiko, dan Afrika Selatan. Gugatan tersebut juga menuduh bahwa perusahaan mempertahankan kemampuan untuk mendeskripsi dan meninjau isi pesan.
Baca selengkapnya di sini.
