Virus Nipah Pernah Ditemukan pada Sampel Kelelawar di Kalbar

Virus Nipah Pernah Ditemukan pada Sampel Kelelawar di Kalbar

Tim detikcom - detikKalimantan
Jumat, 30 Jan 2026 13:31 WIB
Cara Mengusir Kelelawar yang Hinggap di Rumah
Foto: Nils Bouillard/Unsplash
Balikpapan -

Infeksi virus Nipah merebak di media sosial akibat kemunculan kasus positif di India. Lalu bagaimana di Indonesia?

Sekedar diketahui, Nipah merupakan penyakit zoonosis yang menular ke manusia melalui hewan yang terinfeksi seperti kelelawar atau babi. Hingga saat ini, belum ada kasus infeksi virus Nipah di Indonesia yang ditemukan.

Dirangkum dari detikHealth dan detikJabar, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof dr Dominicus Husada, SpA, Subsp IPT mengungkapkan bahwa sebenarnya nipah sudah pernah ditemukan di Indonesia, tapi pada hewan kelelawar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai inang alami, memang aslinya dia yang berperan, negara kita termasuk yang punya kelelawar ini dan sudah ditemukan virusnya pada kelelawar, tapi pada orang memang belum," ungkap Prof Husada dalam konferensi pers, Kamis (29/1/2026).

Pada tahun 2008, melalui uji serologi ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay), sejumlah kelelawar spesies Pteropus vampyrus ditemukan memiliki antibodi virus Nipah.

Berdasarkan surveilans serologi, sebanyak 18 hingga 30 persen kelelawar jenis kalong besar alias Pteropus vampyrus di lima provinsi di Indonesia memiliki virus Nipah. Surveilans ini dilakukan melalui uji ELISA kepada sejumlah kelelawar di Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Barat.

"Penelitian dilakukan terhadap beberapa hewan pembawa dan uji ELISA di beberapa tempat seperti di Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan itu kelelawar kita ada antibodinya dan bisa sampai sepertiganya dari semua kelelawar yang diteliti," ucapnya.

Sementara itu, uji coba yang dilakukan pada hewan babi dilakukan di rumah potong hewan di Jakarta, Medan, Riau, dan beberapa peternakan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara. Hasilnya tidak ditemukan serum babi yang mengandung antibodi nipah.

"Hasilnya tidak ada babi yang mengandung antibodi Nipah. Yang terdeteksi positif hanya di kelelawar, terutama kelelawar buah," terangnya.

Selain itu, virus Nipah juga ditemukan pada dua dari 50 sampel swab saliva yang diambil dari kelelawar Pteropus Sp asal Sumatera Utara. Sampel tersebut diambil menggunakan uji RT-PCR. Deteksi virus itu pernah diungkapkan dalam sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2017.

"Kemudian pada ludah yang diteliti dari 50 sampel itu ada virusnya, bukan cuma antibodinya, karena waktu di PCR muncul. Ternyata yang ditemukan di Indonesia itu yang dari kelelawar," ungkapnya.

Oleh karenanya, kelompok pekerja yang bersinggungan langsung dengan habitat kelelawar seperti petani nira aren atau buah-buahan lain, menjadi kelompok yang paling rentan terpapar virus Nipah. Termasuk juga peternak atau pemotong babi ternak.

Meski begitu, Prof Husada mengingatkan masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan. Selama langkah pencegahan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan, maka infeksi virus Nipah bisa dicegah. Terlebih, hingga saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum menemukan kasus virus Nipah pada manusia.

Dominicus memaparkan, infeksi virus Nipah kecil kemungkinan merebak dan menyebar luas menjadi pandemi seperti Covid-19. Pasalnya, media penularannya tidak melalui saluran napas sebagaimana Covid-19.

"Kalau (resiko menjadi) pandemi tidak besar, tapi resiko menjadi wabah terbilang besar. Wabah itu penyakit di tingkat lokal misalnya (melanda) satu kota, satu kabupaten atau satu negara. Resiko penyakit menjadi pandemi akan besar bila penularannya terjadi lewat saluran napas seperti SARS-CoV-2," jelasnya.

Meski demikian, ia tetap meminta agar seluruh pihak berjaga-jaga karena kemungkinan kecil tidak sama dengan nol. Terlebih, virus masih dapat bermutasi.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads