Kisah pilu dialami Kirno (60), seorang pria di Ponorogo, Jawa Timur, yang telah menghabiskan 20 tahun hidupnya dipasung di jeruji besi mirip kandang. Rupanya kondisi Kirno yang gangguan jiwa berawal dari belajar ilmu kebatinan atau kanuragan secara tidak wajar.
Pihak keluarga, melalui adik kandungnya, Sarti, mengungkapkan Kirno mulai berambisi mempelajari ilmu tersebut sekitar tahun 1986, saat usianya masih menginjak 20 tahun. Kala itu, pihak keluarga menilai ia memaksakan diri meski secara umur dan mental belum siap untuk menanggung beban ilmu tersebut.
"Dia itu dulu ngaji ilmu Jawa, kebatinan. Umurnya belum cukup, tapi memaksa minta ilmu. Kan belum waktunya, nanti dia nggak kuat nanggung beban ilmu itu," kata Sarti saat ditemui, Kamis (29/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah berkelana mencari guru spiritual ke berbagai daerah seperti Trenggalek, Malang, hingga Blitar, kondisi kejiwaannya justru berubah drastis dan pikirannya menjadi tidak stabil setibanya di rumah.
Gangguan yang dialami Kirno berubah pada perilaku yang sangat berbahaya. Ia kerap membunuh hewan ternak dengan cara sadis, merusak bangunan rumah, hingga membakar batu nisan. Lebih jauh lagi, Kirno menunjukkan kebiasaan tidak lazim dengan mengonsumsi benda-benda berbahaya seperti besi, api, bulu ayam bangkai, hingga serbuk kayu sisa gergaji mesin layaknya memakan nasi.
"Bambu ori bisa dijebol pakai gigi. Kalau ada orang tebang kayu pakai chainsaw, itu kayunya dimakan seperti makan nasi," tuturnya.
Keputusan berat untuk memasung Kirno diambil setelah insiden kekerasan pada 12 Juli 2006. Saat itu, Kirno melakukan penyerangan brutal terhadap suami Sarti menggunakan gancu dan sabit yang nyaris merenggut nyawa iparnya tersebut. Meski korban selamat, Kirno masih menyimpan dendam hingga saat ini.
Berbagai upaya pengobatan, termasuk pengobatan alternatif ke Prigi, telah dicoba namun gagal. Kirno justru merasa dianiaya saat hendak diobati dan bahkan mampu pulang lebih cepat daripada pengantarnya.
"Dia merasa dianiaya, padahal mau diobatkan. Yang ngantar belum pulang, dia sudah ada di rumah lagi," ujarnya.
Saat ini, Kirno ditempatkan dalam kerangkeng panggung yang didesain tidak menyentuh tanah untuk meredam kekuatannya. Meskipun langkah ini diambil demi keselamatan warga dan keluarga, Sarti menegaskan bahwa mereka tidak menelantarkannya. Kebutuhan dasar Kirno seperti makan tiga kali sehari, minum kopi, dan rokok tetap dipenuhi oleh keluarga.
Baca artikel selengkapnya di sini.
