Fenomena Ikan Mati Massal di Sungai Barito Pernah Terjadi 2016 dan 2019

Fenomena Ikan Mati Massal di Sungai Barito Pernah Terjadi 2016 dan 2019

Khairun Nisa - detikKalimantan
Selasa, 27 Jan 2026 18:30 WIB
Ribuan ikan tambak di Barito Kuala mati mendadak.
Ribuan ikan tambak di Barito Kuala mati mendadak. Foto: Dok. Istimewa
Barito Kuala -

Fenomena ikan mati mendadak di perairan Sungai Barito, Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), sudah pernah terjadi beberapa waktu silam. Sebelumnya, di 2016 dan 2019 juga terjadi ikan yang mati massal.

"Di 2016 itu jauh lebih banyak dibanding sekarang, dan di 2019 itu lebih sedikit," ujar petambak di Barito Kuala, Suriadi pada detikKalimantan, Selasa (27/1/2026).

Suriadi mengatakan bahwa pada 2016 itu, air sungai sempat terlihat jernih pada Oktober 2015. Seiring berjalannya waktu, pada Januari 2016, ikan langsung mati massal. Ikan diduga mati karena terjadi pembilasan tanah setelah musim kemarau yang berdampak pada kualitas air Sungai Barito.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu 2016 itu air sempat jernih warnanya, itu sekitar Oktober 2015 dan pada Januari 2016 ikan mati semua. Dulu kami terima informasi karena terjadi pembilasan tanah dari musim kemarau ke musim penghujan," tutur Suriadi.

Hanya saja, ia tak memastikan kembali penyebab kematian ikan-ikan nila keramba itu. Ia sempat menerima informasi bahwa nilai ph air sungai berkisar 4/5, dengan kondisi air bening.

"Disebutkan itu penyebab ikan mati massal, namun lengkapnya kita kurang mengetahui," ujarnya.

Pada 2019, kejadian tak begitu besar. Ikan mati tergolong lebih kecil dibandingkan 2016 lalu. Fenomena serupa kembali terjadi pada 2026, ikan-ikan mati mendadak tanpa adanya tanda-tanda.

"Pada 2016 itu sempat ada jarak, tandanya air bening pada Oktober 2015, dan mati massal pada Januari 2016. Nah di 2026 inj benar-benar mendadak, bahkan kita juga tidak mengetahui penyebabnya," ujar Suriadi.

Untuk kelompok pembudidaya ikan di Jembatan Rumpiang Desa Bagus sendiri, ada 1.2 ton ikan yang mati mendadak dari 25 lubang keramba.

"Ini sangat kami sayangkan, kami menunggu apa penyebab dari kematian ikan-ikan ini," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, 77.240 ton ikan di tambak dan Sungai Barito wilayah Barito Kuala (Batola) mati secara mendadak. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola tengah menelusuri penyebabnya. Kematian massal mendadak ini ditaksir merugikan petambak dan nelayan hingga senilai Rp 2,7 miliar.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads