Pakar Ungkap Ada 3 Hal yang Tak Bisa Dilakukan AI

Pakar Ungkap Ada 3 Hal yang Tak Bisa Dilakukan AI

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikKalimantan
Senin, 19 Jan 2026 07:00 WIB
Businesswomen leverage artificial intelligence to analyze market data to identify target audiences and business growth trends, crafting effective marketing strategies and gaining a competitive edge.
Ilustrasi AI. Foto: Getty Images/Prae_Studio
Balikpapan -

Manusia sedang dibuat dilema dengan kehadiran kecerdasan buatan atau AI. Sering kali kita merasa terbantu, kadang kita merasa ngeri dengan bahayanya.

Bahkan, laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memprediksi, 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta sedangkan 92 juta akan tergusur dalam lima tahun ke depan, imbas AI dan otomatisasi.

Dikutip dari detikEdu, Dekan Sekolah Magister Management Globis University dari Jepang, Prof Satoshi Hirose memaparkan ada tiga hal yang tak bisa dilakukan AI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AI tidak dapat melakukan tiga hal. Tiga hal yang AI tidak dapat melakukan. Apa itu? Pertama, membuat keputusan," kata Prof Satoshi Hirose beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pertama, adalah membuat keputusan. Kedua, memutuskan nilai-nilai seperti kelestarian, bagaimana berdampingan dengan alam. Ketiga, adalah sense of mission, tujuan hidup atau istilah dalam bahasa Jepang adalah 'kokorozashi'.

Kokorozashi adalah konsep Jepang tentang misi pribadi atau tujuan hidup ambisius yang menyatukan gairah, keahlian, dan visi jangka panjang untuk menciptakan perubahan positif di masyarakat.

"Itulah tiga hal yang AI tidak dapat melakukan. Dan, sangat jelas. Jadi, apa yang harus kita lakukan adalah memperkuatnya," imbuh Hirose.

Banyak anak muda sekarang, datang ke perusahan dan melakukan pekerjaan yang sifatnya administratif. Nah, anak-anak muda ini harus mulai diajarkan tentang bagaimana cara membuat keputusan, memutuskan nilai-nilai diri apa yang mereka pegang hingga menentukan misi dan tujuan hidup mereka.

Dikutip detikEdu dari laman Fortune, pendapat lain datang dari ekonom Universitas Oxford, Carl Benedikt Frey. Menurut Frey, ada tiga keterampilan inti di mana manusia memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan AI.

Ketiga keterampilan inti itu yakni: interaksi sosial yang kompleks, kreativitas, dan resiliensi untuk menavigasi lingkungan yang kompleks.

  • Interaksi Sosial

Frey menguraikan bahwa AI tidak dapat mengadakan rapat sebaik kemampuannya dalam menyelesaikan pembagian panjang. Komunikasi dan kecerdasan emosional adalah hal-hal yang tidak dapat ditiru oleh model AI, setidaknya untuk saat ini, sehingga nilainya tetap terjaga di tempat kerja.

Sebuah studi Universitas Stanford yang mengevaluasi bagaimana AI akan menggeser keterampilan yang dihargai di tempat kerja menemukan bahwa keterampilan komunikasi akan semakin penting. Sementara keterampilan yang kini bergaji tinggi seperti analisis data dan akuntansi akan menurun nilainya.

  • Kreativitas

Kreativitas manusia, imbuh Frey, melampaui menghafal pengetahuan dan mengulanginya dalam format yang berbeda. Dibutuhkan kemampuan untuk berpikir berbeda dan mendobrak batasan.

"Jika Anda bertanya kepada LLM (Large Language Model/model bahasa besar semacam ChatGPT-red) pada tahun 1900, 'Apakah manusia akan pernah bisa terbang?'. Mereka akan menyimpulkan bahwa tidak ada burung yang beratnya lebih dari 30 pon yang mampu lepas landas," ujar Frey menganalogikan ChatGPT jika sudah ada di era itu.

Itulah mengapa kreativitas menjadi karakter yang harus dimiliki para pekerja. Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) juga mengatakan bahwa pemikiran kreatif menjadi semakin penting di tengah meningkatnya AI. Frey mengatakan diskusi dan debat aktif (landasan pendidikan perguruan tinggi) adalah aktivitas penting untuk meningkatkan pemikiran kreatif.

  • Resiliensi/Ketahanan

Frey mengatakan AI tidak memiliki ketahanan yang cukup untuk berfungsi seperti manusia. AI dapat menyediakan dengan sekali klik berbagai informasi, mulai dari sejumlah kasus hukum yang kompleks hingga rencana perjalanan yang dioptimalkan. Tetapi AI tidak berfungsi dengan baik di lingkungan yang selalu berubah, seperti dunia nyata.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads