Gawat! Air Bersih di Bumi Makin Menipis, Hilang 4 Kolam Renang per Detik

Gawat! Air Bersih di Bumi Makin Menipis, Hilang 4 Kolam Renang per Detik

Rachmatunnisa - detikKalimantan
Senin, 05 Jan 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Air Bersih
Ilustrasi air bersih. Foto: Shutterstock
Balikpapan -

World Bank merilis Global Water Monitoring Report terbaru yang mengungkap fakta miris tentang ketersediaan air tawar bersih di Bumi. Menurut laporan tersebut, setiap detiknya Bumi kehilangan air tawar setara 4 kolam renang Olimpiade.

Dikutip detikInet dari Live Science pada Minggu (4/1/2026), temuan dalam Global Water Monitoring Report ini memberikan gambaran paling rinci tentang penurunan air tawar di daratan global. Hal ini juga berdampak serius bagi banyak sektor, mulai dari pertanian, permukiman, hingga keamanan pangan.

Sejatinya, lanskap daratan mulai dari sungai, danau, tanah basah, hingga salju di pegunungan dapat menyimpan air tawar bersih. Namun, belakangan terjadi fenomena continental drying di mana air tawar yang tersimpan di daratan itu berkurang signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab continental drying ini meliputi mencairnya salju dan es yang semakin cepat, pencairan permafrost, penguapan yang meningkat, dan eksploitasi air tanah berlebihan.

Laporan World Bank mencatat bahwa daratan kehilangan sekitar 324 miliar meter kubik air tawar setiap tahunnya. Air-air tersebut bermuara ke lautan yang akhirnya berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global.

"Setiap detik kita kehilangan air setara empat kolam renang ukuran Olimpiade," jelas Fan Zhang, Global Lead for Water, Economy and Climate Change di World Bank dikutip dari Live Science, Minggu (4/1/2026).

Fan Zhang menekankan masalah air tawar bersih ini bukan lagi hanya skala lokal, tetapi sudah jadi tantangan global. Kehilangan air tawar berdampak langsung pada pertanian, karena irigasi terganggu saat air tanah menipis. Keamanan pangan juga terancam. Sebab, produksi pangan bergantung besar pada air bersih.

Risiko kekeringan dan kelangkaan air sudah terjadi di beberapa kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Karena itu, dibutuhkan solusi yang bisa segera dilakukan untuk mencegah percepatan hilangnya air tawar.

Beberapa solusi antara lain dengan mengelola permintaan air secara lebih efisien dengan teknologi dan regulasi yang tepat, memperluas sumber air alternatif seperti daur ulang air limbah dan desalinasi laut, serta mengalokasikan air secara adil dan efisien di seluruh sektor dan wilayah.

Solusi lainnya dengan mengubah dalam praktik pertanian, seperti penggunaan sistem irigasi yang hemat air untuk mengurangi tekanan pada sumber air tawar.

Untuk diketahui, air tawar hanya sekitar 3% dari total air di Bumi. Sebagian besar terjebak dalam bentuk es atau jauh di bawah tanah. Apa yang tersisa untuk kebutuhan manusia sangat terbatas, dan tekanan populasi serta perubahan iklim memperburuk situasi ini.

Baca selengkapnya di sini.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads