Banjir di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kabupaten Banjar sudah mencapai pinggang orang dewasa. Tingginya air membuat warga kesulitan beraktivitas di dalam rumah. Transportasi yang digunakan pun terbatas. Karenanya, warga memanfaatkan toren air untuk menjadi alat transportasi selama banjir.
"Bikin sendiri, dari toren bekas kemudian bikin dayungnya juga. Mandiri saja," ujar salah satu warga bernama Dian, Minggu (4/1/2026).
Untuk keselamatan anaknya, Dian menambahkan ban di dalam toren. Ia pun menggunakan perahu toren itu untuk mengambil bantuan dan makanan ke posko pengungsian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dian masih sering bolak balik ke rumah untuk membersihkan rumah dan menyelamatkan beberapa barang lainnya. Selain itu, dirinya juga khawatir jika meninggalkan rumah dalam waktu lama untuk mengungsi.
"Jadi kita setiap hari bolak balik ke rumah, biar tetap tahu kondisi rumah. Untuk makan ada dapur umum di depan jadi mengambil dari sana," ucapnya.
Banjir ini sudah merendam wilayah Banjar sejak 28 Desember 2025 lalu, kemudian semakin bertambah dalam saat memasuki pergantian tahun. Hingga hari keempat tahun 2026, air masih tinggi.
"Sudah dari acara 5 rajab itu, sampai ini air masih tinggi. Semoga saja bisa segera surut dan normal kembali," harapnya.
Senada, warga bernama Karmila turut mengatakan bahwa rumahnya juga kebanjiran. Bahkan sudah hampir dua pekan ini air merendam rumahnya, mulai dari semata kaki hingga kini mencapai paha orang dewasa.
"Naik terus air itu, setiap sore sampai pagi naik debit air. Kalau sudah siang mulai surut nanti sore naik lagi," ungkapnya.
Karena itu, Karmila memilih untuk mengungsi di posko pengungsian hingga air mulai surut. Ia hanya bisa berharap air bisa segera surut dan ia bisa kembali ke rumah.
"Mudahan cepat surut, kita juga capek kepikiran di rumah dan bebersihnya habis ini," pungkasnya.
(des/des)
